RSS

HUBUNGAN PERSONAL POWER PEMIMPIN DENGAN KONFLIK KERJA PADA KARYWAN DI PEMDA (PEMERINTAH DAERAH) PROBOLINGGO

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Balakang
Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa konflik kerja ini mempengaruhi kepuasan kerja, semangat kerja, dan prestasi kerja, seperti yang dijelaskan E.Kossek (1998:139) bahwa ada hubungan antara konflik kerja dengan kepuasan kerja. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa dalam dunia kerja hubungan keluarga bisa mempengaruhi kepuasan kerja dan konflik kerja dalam keluarga. Menurut Kurniarini (2001:71) dalam penelitiannya bahwa ada hubungan konflik kerja dengan kepuasan kerja pada karyawan Bank Mandiri cabang Surabaya. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil uji korelasi (r) sebesar 0.693 dengan taraf signifikansi sebesar 0.001, yang dapat di tarik kesimpulan bahwa ada hubungan positif antara konflik dengan kepuasan kerja.  Ibrahim (1999:75) mengatakan bahwa ada pengaruh yang positif dan signifikan antara konflik kerja dengan semangat kerja karyawan di UD. DEWI SARTIKA JAYA Blitar dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0.481 dan taraf signifikansinya sebesar 0.000. Dalam penelitian Mukti (1999:68), menyebutkan bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan konflik kerja terhadap prestasi kerja karyawan di PT. PERHUTANI Malang. Dimana nilai f hitung diperoleh sebesar 18,310 dengan nilai taraf signifikansi sebesar 0,001. Dan di sisi lain, konflik kerja juga di pengaruhi oleh menejemen konflik, stres kerja, penyesuaian sosial, hubungan interpersonal, gaya kepemimpinan dan efektifitas komunikasi. Seperti yang dikemukakan oleh Sukowati (2001:69), disebutkan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan antara manajemen konflik dengan konflik kerja karyawan PT. SUDINAR RATHA Malang, dimana nilai koefisien korelasi (r) di peroleh sebesar 0.751 dengan taraf signifikansi sebesar 0.001 dan sumbangan efektif dalam penelitian ini diketahui sebesar 0.571 atau 57.1 % sisanya adalah variabel lain yang tidak di teliti dalam penelitian ini. Begitu pula hasil penelitian Sriwahyuni (2000:49) menarik kesimpulan bahwa “terdapat hubungan yang signifikan antara Stres Kerja dengan konflik kerja pada karyawan menggunakan shift kerja di PT. TELAGAMAS  MITRA ALASINDO Pasuruan” dengan nilai r = 0.85 dan nilai p = 0.001 . Faktor lain yang mempengaruhi konflik kerja terdapat dalam penelitian yang dilakukan oleh Nuraini (2002:65) menemukan bahwa ada pengaruh yang signifikan penyesuaian sosial terhadap konflik kerja karyawan di PT. ASSINDO RAYA Tangerang dimana nilai f hitung diperoleh sebesar 11.731 dengan taraf signifikannya sebesar 0.001. Saputra (1999:227) dalam penelitianya bahwa ada pengaruh hubungan interpersonal terhadap konflik kerja karyawan  di rumah sakit umum Aisyiah Lamongan. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa nilai f hitung lebih besar dari pada f tabel, sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima. Andrian (2001:67) dalam penelitiannya disebutkan bahwa terdapat pengaruh gaya kepemimpinan terhadap konflik kerja pada karyawan PDAM Semarang. Hal tersebut di lihat dari perolehan nilai f dihitung sebesar 851 dengan taraf signifikansi sebesar 0.001.   Kiranti (2004:56) menerangkan bahwa konflik kerja mempunyai hubungan yang negatif terhadap efektivitas komunikasi antar pribadi di Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) “Bina Warga Mandiri” Malang. Jadi dapat disimpulkan bahwa konflik yang terjadi dalam kelompok rendah apabila efektivitas komunikasi yang dilakukan tinggi, dan begitu pula sebaliknya konflik kerja tinggi jika efektivitas komunikasi yang dilakukan rendah,dimana r=0,541dengan taraf signifikansi 0,00. Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Handoko (1995: 345) konflik biasanya timbul dalam organisasi sebagai hasil adanya masalah-masalah komunikasi, hubungan pribadi atau struktur organisasi. Konflik kerja yang terjadi dalam sebuah perusahaan juga tidak terlepas dari peranan pemimpin dalam perusahaan tersebut, kemampuan seorang pemimpin dalam menangani konflik kerja sangat dibutuhkan, adapun kemampuan tersebut salah satunya berasal dari power (kemampuan mempengaruhi) seorang pemimpin terhadap bawahannya, besar atau kecilnya kemampuan tersebut dapat dilihat dari besarnya konflik yang dapat diselesaikan oleh pemimpin tersebut. Untuk menumbuhkan, meningkatkan dan memperkokoh power pemimpin dituntut untuk dapat membangun komunikasi yang baik dengan bawahannya. Seperti yang disebutkan dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh Kackmar (1999:764) menjelaskan bahwa frekwensi komunikasi pemimpin yang teratur dengan bawahan akan memacu prestasi bawahan, dibandingkan dengan frekwensi komunikasi pemimpin yang tidak teratur dengan bawahannya. Begitu pula menurut penelitian yang dilakukan oleh De Dreu (1999:759) menerangkan bahwa tugas yang diberikan oleh pemimpin kepada bawahannya bisa menimbulkan konflik dan akan mempengaruhi prestasi kelompok, dan dijelaskan lebih lanjut bahwa konflik yang terjadi tidak mempengaruhi kepuasan kerja dari kelompok. Pemimpin tidak bisa hanya memperhatikan satu aspek saja, tapi harus memperhatikan gaya kepemimpinan dan mengetahui cara mendapatkan perhatian dan kesetiaan dari bawahannya.  Hasanati (2003: 1) dalam penelitannya menerangkan bahwa gaya kepemimpinan tranformasional  menyebabkan komitmen afektif tinggi, sedangkan gaya kepemimpinan transaksional menyebabkan komitmen afektif rendah. Rendahnya komitmen afektif yang dialami oleh karyawan ini disebabkan oleh pemimpin dengan gaya kepemimpinana transaksional, keadaan ini jika diabaikan  pada akhirnya akan menyebabkan konflik kerja. Pemimpin juga harus bisa mendapatkan perhatian dari bawahannya agar solusi yang diberikan oleh seorang pemimpin kepada karyawannya dapat dilaksanakan dengan maksimal seperti penelitian yang dilakuikan oleh Yorges, Penelitian yang dilakukan oleh Yorges (2003: 428) menjelaskan bahwa prilaku pemimpin (pengorbanan) sangat berpengaruh terhadap pandangan bawahannya, jika pengorbanan yang telah dilakukan besar maka akan berpengaruh besar tentang padangan bawahannya terhadap pemimpinnya dan itulah keuntungan yang dapat diperoleh dari pengorbanan yang telah dilakukan . Dari penelitian yang dilakukan oleh Robert (2000: 643) menjelaskan bahwa di Amerika, Mexico dan Polandia menemukan bahwa pemindahan kekuasaan atau pembagian kekuasaan kepada orang lain (satu level dibawah pemimpin) yang dilakukan oleh seorang pemimpin dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, namun penelitiannya yang dilakukan di India tentang pemindahan kekuasaan atau pembagian kekuasaan kepada orang lain (satu level dibawah pemimpin tidak
mempengaruhi kepuasan kerja dari bawahannya.  Johnson (1975: 229) mengatakan jika seorang pemimpin yang mempunyai power menginginkan bawahannya untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh pemimpin itu, dan bawahannya mempunyai keinginan yang sama untuk mengerjakannya maka tidak ada konflik, jika seorang pemimpin yang tidak memiliki power memberikan perintah pada bawahannya dan bawahannya menginginkan untuk mengerjakan perintah pemimpin, maka tidak akan ada konflik. Namun jika seorang pemimpin yang kurang memiliki power memberikan perintah kepada bawahannya untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya, namun bawahannya berkeinginan melakukan yang lain disinilah akan timbul konflik. Dijelaskan lebih lanjut, bahwa pemimpin yang sukses menggunakan power dapat sering mengakhiri konflik.  Menurut Moekijat(1988:177) power adalah penting karena penting bagi kegiatan manusia yang dikoordinasikan, artinya untuk organisasi yang efektif. Apabila dalam sebuah organisasi terjadi kekacauan, kekalutan maka orang-orang didalamnya akan memerlukan ketergantungan dan kerelaan sepenuhnya dalam hubungan antara manusia, dengan demikian power memberikan perlindungan dari kekacauan.  Berdasarkan uraian secara deskriptif diatas, memunculkan pemikiran untuk mengadakan penelitian berjudul  “Hubungan  Personal Power Pemimpin dengan konflik kerja pada karyawan”.
B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara personal power pemimpin dengan konflik kerja pada karyawan.

C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui hubungan personal power pemimpin dengan konflik kerja pada karyawan.
 D. Manfaat Penelitian
 Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran antara power pemimpin dengan konflik kerja pada karyawan. Adapun manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
Teoritis
Sebagai referensi tambahan bagi pengembang ilmu Psikologi: terutama disiplin ilmu Psikologi Industri dan organisasi.
Praktis
Memberikan informasi dan pengetahuan pada perusahaan-perusahaan atau instansi-instansi terkait tentang hubungan power pemimpin dengan konflik kerja, sehingga perusahaan dapat melakukan prevensi atau penanggulangan konflik kerja pada karyawan-karyawannya sehingga upaya penciptaan budaya kerja atau etos kerja yang baik pada karyawan akan semakin memungkinkan untuk dicapai.

HUBUNGAN KONTROL DIRI (SELF CONTROL) DENGAN PERILAKU JUVENILE DELINQUENCY PADA PELAJAR SMAN I SOOKO KABUPATEN MOJOKERTO

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
 Kenakalan remaja seiring dengan kemajuan pembangunan memberikan pengaruh yang cukup berarti terhadap perkembangan dan perubahan nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat. Remaja yang mengalami kesulitan emosionalnya bisa jadi akibat dari banyaknya tekanan dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan mereka. Cara yang termudah bagi mereka untuk menyelesaikan permasalahan mereka sendiri yaitu dengan cara menghindar atau melarikan diri dari persoalan tersebut.  Situasi yang tidak lebih baik inilah yang banyak membuat sebagian remaja memilih bersikap dan bertindak apatis, seperti tawuran, minum-minuman keras, menenggak obat-obatan terlarang dan lain sebagainya yang banyak dilakukan sebagai perwujudan perilaku anti sosial.  Tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pelajar dewasa ini sudah sangat memprihatinkan. Berbagai media massa memberitakan mengenai berbagai bentuk tindak kekerasan pelajar yang bersifat fisik, misalnya saja perkelahian antar pelajar (tawuran), pembunuhan, penodongan, perusakan sekolah, pemerasan dan penganiayaan terhadap sesama pelajar sendiri.   Berdasarkan data Kepolisian Polda Metro Jaya pada tahun 2000 menunjukkan bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pelajar setiap tahun mengalami peningkatan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Jenis kekerasan yang dilakukan oleh mereka cukup bervariasi, mulai dari pencurian, tawuran, perkelahian, penganiayaan, sampai pembunuhan. Dari data tersebut diperoleh informasi bahwa banyak kasus kekerasan pelajar Sekolah Teknik Menengah (STM) atau sekarang disebut Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Dalam banyak kasus kekerasan pelajar, siswa SMK (STM) paling banyak terlibat tawuran, dibandingkan dengan siswa Sekolah Menengah Umum (SMU). Untukkasus tawuran saja misalnya dari tahun 1995 – 1999, telah terjadi ratusan kasus, dan 432 kasus dilakukan oleh siswa STM, sedangkan 218 kasus dilakukan oleh siswa SMU. Padahal, menurut data Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) jumlah STM di Jakarta jauh lebih sedikit daripada jumlah SMU (Zainal Abidin dkk, 2003:13). Penelitian tersebut dilakukan oleh Zainal Abidin dkk, yaitu tentang intensi agresi di kalangan siswa STM dan SMU di kota Bandung memperoleh hasil sebagai berikut, bahwa dengan menggunakan analisis T-test untuk menguji perbedaan dua kelompok subjek menunjukkan hasil t = 3,860, p<0,001, artinya ada perbedaan yang signifikan antara tingkat intensi agresi siswa SMU dan STM (Abidin dkk, 2003: 17).  Berikut adalah beberapa hasil penelitian tentang kenakalan remaja. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Yulianti (2000:56), yaitu tentang perbedaan tingkat Kenakalan Remaja antara Keluarga Utuh dan Keluarga Cerai. Dari hasil analisa diketahui bahwa ada perbedaan tingkat kenakalan remaja yang sangat signifikan antara keluarga utuh dan keluarga cerai dengan nilai (t = 3,928 dan p < 0,001). Dimana hal ini berarti bahwa remaja dari keluarga cerai memiliki tingkat kenakalan yang lebih tinggi dibandingkan remaja dari keluarga utuh (M2 = 106,07 > M1 = 90,37). Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan dari UII (2004: 15) tentang Kecenderungan Berperilaku Delinkuen Pada Remaja Ditinjau dari Orientasi Religius Dan Jenis Kelamin. Hasil analisis korelasi product moment dari Pearson menunjukkan harga koefisien sebesar r = 0,540 (p<0,01) dengan koefisien determinan r2 = 0,292. ini berarti ada korelasi negatif yang signifikan antara orientasi religius dengan kecenderungan berperilaku delinkuen pada remaja, khususnya pelajar muslim SMUN I Tasikmalaya. Yang artinya semakin tinggi orientasi religiusnya, maka semakin rendah kecenderungan remaja untuk berperilaku delinkuen. Sedangkan dari hasil analisis data dengan teknik analisis kovariansi 1-jalur memperlihatkan bahwa, dengan mengontrol variabel orientasi religius, diperoleh harga koefisien sebesar F= 2, 580 (p> 0,05). Ini berarti bahwa dengan mengontrol orientasi religius, tidak ada perbedaan yang signifikan kecenderungan berperilaku delinkuen antara remaja laki-laki dan remaja perempuan. Jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap perbedaan tinggi rendahnya kecenderungan berperilaku delinkuen remaja.  Penelitian tentang kenakalan remaja juga dilakukan oleh  Hidayat (2000:111), yaitu  dengan judul Perbedaan Kenakalan Remaja Yang Mengikuti Dengan Yang Tidak Mengikuti Kegiatan Ekstrakurikuler Olah Raga Seni Beladiri Karate. Berdasarkan uji-t terhadap Kelompok Perkelakuan yang membandingkan perilaku kenakalan remaja yang mengikuti dan yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olah raga seni beladiri karate diperoleh nilai t= 2, 710 ; dengan p= 0,008. dengan demikian terdapat perbedaan yang signifikan perilaku kenakalan  remaja, antara remaja yang mengikuti dan yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olah raga seni beladiri karate, dimana remaja yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karate lebih tinggi tingkat kenakalannya (Rerata = 71,946) dibandingkan dengan remaja yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olah raga seni beladiri karate (Rerata = 64,674).  Sistem kontrol diri (self control) merupakan kondisi tingkah laku yang sudah dibentuk berdasarkan pengaruh keadaan-keadaan yang menekan diri, dimana keadaan tersebut bisa berasal dari luar ataupun dari dalam. Kontrol diri seseorang bisa terbentuk juga karena adanya aturan-aturan atau hukum yang mengikat diri agar tingkah laku yang diwujudkan bisa dikendalikan. Menurut Snyder (2001: 875) kontrol diri merupakan kestabilan dalam penyusunan karakteristik yang juga menghubungkan kecenderungan individu dalam bertindak sesuai dengan sikap mereka.  Dari penelitian yang dilakukan oleh I. M Jawahar dari Illinois State University (2001: 880) tentang pengaruh  sikap dan pengendalian diri dalam keakuratan dari ukuran penampilan dan keputusan personal, mengemukakan bahwa pengendalian diri secara signfikan berpengaruh pada keakuratan ukuran 2 2 = .53) dan keakuratan keputusan (? = - .635, R  = penampilan (? = - . 720, R.40).  Berikut ini adalah hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Widiana dkk, fakultas Psikologi UAD dan UGM (2004: 6), tentang Kontrol Diri dan Kecenderungan Kecanduan Internet. Dari penelitian tersebut mengemukakan bahwa hasil analisis menunjukkan koefisien korelasi (r ) sebesar –0,2030 xy(p=0,046). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara kontrol diri dengan kecenderungan kecanduan internet. Hasil analisis data yang dilakukan menunjukkan bahwa semakin tinggi kontrol diri maka semakin rendah kecenderungan kecanduan internet. Kontrol diri memberikan sumbangan efektif sebesar 4.12% terhadap kecenderungan kecanduan internet.  Menurut penelitian tentang kontrol diri yang dilakukan oleh Ajzen dkk tahun 1982 (Jawahar, 2001: 876) menyebutkan bahwa orang dengan kontrol diri yang tinggi cakap dalam memecahkan isyarat-isyarat dalam lingkungan sosialnya dan juga pandai dalam menyelaraskan tingkah lakunya agar sesuai dengan konteks sosialnya. Sebaliknya, perilaku dengan kontrol diri yang rendah mereflekskan perasaan dan sikap mereka tanpa menghargai situasi atau konsekuensi interpersonal akibat perilakunya tersebut.  Menurut Skinner (Alwisol, 2004:412), kontrol diri (self control) dapat dijalankan dengan jalan menganalisis tingkah laku berdasarkan hubungan sebab dan akibat, dimana sebab-sebab itu sendiri bersifat dapat dikendalikan, karena tingkah laku yang dihasilkan itu bersifat teratur dan berubah-ubah, dan tujuan kita ialah mengendalikannya. Self control ini paling baik dengan menemukan hubungan-hubungan yang taat asas antara masukan-masukan ke dalam individu dengan tingkah laku yang keluar atau tingkah laku yang nampak dari individu.  Dari penelitian yang dilakukan oleh Yaacov Trope dkk dari Tel Aviv Unv., Israel (Trope, 2000: 496) tentang penggunaan self-control secara aktif untuk mengatasi godaan/gangguan mengemukakan beberapa hasil penelitiannya. Hasil riset yang pertama yaitu menunjukkan bahwa penghargaan untuk jangka pendek akan mendatangkan strategi kontrol diri untuk dirinya sendiri daripada orang lain. Dan hasil yang kedua yaitu bahwa dukungan kontrol diri membantu seseorang beraksi sesuai dengan interest jangka panjang mereka. Dan hasilnya ditunjukkan sebagai berikut, seperti yang telah diprediksikan dalam analisa ANOVA bahwa ada hubungan yang signifikan antara durasi godaan/gangguan dengan target, F(1, 108) = 8,58, p < .01.  Terbentuknya kontrol diri (self control) ini dengan baik, tidak terlepas dari kesadaran diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki individu. Kesadaran diri (self consciousness), adalah satu ciri yang unik dan mendasar pada diri manusia, yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya.  Dan terbentuknya kontrol diri, tidak terbentuk secara otomatis, melainkan adanya usaha dari individu. Dan tingkatan kontrol diri individu itu ditentukan oleh berapa besar dan sejauh mana individu tersebut berusaha mempertinggi kontrol dirinya. Di lain pihak, kontrol diri itu menentukan langkah-langkah apa yang perlu diambil oleh individu dalam meningkatkan atau mempertinggi kontrol diri.  Tingkah laku kontrol diri, menunjukkan pada kemampuan individu mengarahkan tingkah lakunya sendiri yaitu suatu tindakan yang berkenaan dengan kemampuan melakukan suatu keinginan dengan tujuan yang terarah, meskipun untuk mencapai tujuan tersebut disertai dengan adanya hadiah atau hal-hal yang menyenangkan serta usaha yang sukar atau kemampuan menghilangkan ataumengubah tingkah laku habitual yang tidak dikehendaki.  Seperti halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo (2003:43) tentang perbedaan kontrol diri antar remaja yang ikut kebut-kebutan dengan yang tidak ikut kebut-kebutan, menyebutkan bahwa ada perbedaan kontrol diri yang signifikan (t = 4,416, p = 0,000) antar remaja yang ikut kebut-kebutan, dimana remaja yang tidak ikut kebut-kebutan kontrol dirinya lebih baik (x = 95,8) dibanding yang ikut kebut-kebutan (x = 70,20). Begitupula dengan penelitian yang dilakukan oleh Hairiyah (2002:43) tentang hubungan pengendalian diri dengan kecenderungan perilaku mengambil resiko pada mahasiswa Pecinta Alam dengan spesialisasi arung jeram, diketahui bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara pengendalian diri dengan kecenderungan perilaku mengambil resiko pada mahasiswa Pecinta Alam dengan spesialisasi arung jeram (r = 0,823 ; sig = 0,000) yang berarti pengendalian diri yang tinggi maka kecenderungan perilaku mengambil resiko akan semakin tinggi pula, sedangkan pengendalian diri yang rendah, maka kecenderungan perilaku mengambil resikonyapun pada taraf rendah.  Sebagian besar individu mempunyai sejumlah keterampilan kontrol diri tetapi ada beberapa orang yang memiliki kontrol diri yang lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya ada pula orang yang mengontrol beberapa aspek kehidupannya dengan baik tetapi kesukaran dalam aspek-aspek lain untuk sebagian kecil orang, kekurangterampilan pengontrol diri menimbulkan masalah yang hebat (Mappiare, 1992:41).  Bertitik tolak dari permasalahan tersebut maka kontrol diri diprediksikan mempunyai peran yang cukup besar dalam mengendalikan perilaku juvenile delinquency. Oleh karena itu untuk mengetahui adanya hubungan kontrol diri dengan perilaku juvenile delinquency serta melihat fenomena diatas maka penulis mengambil judul penelitian:  Hubungan Kontrol Diri (self control) Dengan Perilaku Juvenile Delinquency Pada Pelajar SMAN I SOOKO Kabupaten Mojokerto.

B. Rumusan Masalah
  Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan kontrol diri (self control) dengan perilaku juvenile delinquency pada  pelajar SMAN I SOOKO kabupaten Mojokerto. 
C. Tujuan Penelitian 
  Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui adanya hubungan kontrol diri (self control) dengan perilaku juvenile delinquency pada pelajar SMAN I SOOKO kabupaten Mojokerto. 

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat secara teoritis Dengan pencapaian tujuan tersebut, diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna untuk:
a. Peningkatan pemahaman terhadap permasalahan sosial dan remaja, terutama mengenai hubungan kontrol diri terhadap perilaku juvenile delinquency diantara para pelajar.
b. Memperkaya wawasan pengetahuan dalam disiplin ilmu psikologi, khususnya bidang sosial, dan perkembangan.
2. Manfaat secara praktis
a. Memberi masukan terutama bagi remaja/pelajar untuk dapat mengendalikan segala bentuk perilakunya, khususnya perilaku yang mengarah pada kenakalan remaja.
b. Informasi ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi sekolah-sekolah untuk lebih meningkatkan lagi penanaman nilai-nilai, moral kepada para siswanya, misalnya melalui media TV(pemutaran film), ataupun diskusi bersama. 

HUBUNGAN KEKERASAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU ANTISOSIAL REMAJA

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang 
Masa kanak-kanak, remaja, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Demikian pula dengan masa remaja dimana periode ini merupakan peralihan dari tahap kanak-kanak ke tahap dewasa dengan rentangan usia 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dikatakan dewasa. Masa remaja sering dianggap sebagai masa  paling rawan dalam  proses kehidupan manusia. Padahal bagi remaja sendiri, masa ini adalah masa yang menyenangkan dimana banyak petualangan dan tantangan yang harus dilaluinya sebagai proses pencarian jati dirinya. Tetapi ini sekaligus juga menjadi periode yang rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif  yang diterimanya. Pengaruh ini bisa memunculkan perilaku-perilaku yang kurang disukai atau bahkan sama sekali tidak dikehendaki oleh masyarakat, perilaku seperti ini disebut dengan perilaku antisosial. Perbuatan-perbuatan remaja yang menentang norma masyarakat dewasa ini tidak hanya terbatas pada  berbuatan nakal seperti mencorat-coret dinding,  mabal (bolos sekolah) dan kebut-kebutan dijalan. Tetapi lebih memprihatinkan lagi banyak tindakan yang mengarah pada perbuatan kriminal yang membahayakan seperti perkelahian perorangan, tawuran pelajar, mabuk-mabukan, pemerasan, pencurian, perampokan, penganiayaan dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti psikotropika, yang bisa berujung dengan kematian. Penelitian sebuah organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) wilayah jawa Barat yang dilakukan pada tahun 2003 memperlihatkan bahwa 75% remaja usia 12-24 tahun yang berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa di berbagai kota besar di jawa Barat melakukan penyimpangan kategori kenakalan remaja. Mereka terlibat tawuran, narkotika dan penyimpangan perilaku seksual (Ruspiyandy, 2003). Data ini dapat memberi  gambaran tentang perilaku antisosial remaja yang dewasa ini menuntut perhatian lebih banyak dari para orangtua dan masyarakat. Mengingat generasi muda nantinya diharapkan menjadi tumpuan dan tulang punggung bangsa. Kemampuan optimal manusia harus dibentuk, dibina dan dikembangkan sejak dini.  Tanggung jawab pertama dalam mencetak calon-calon manusia yang tangguh tersebut terletak pada keluarga. Pengasuhan dan pendidikan anak dalam keluarga merupakan ‘instansi’ pertama dalam proses perkembangan dan pendidikan anak serta remaja, hal ini disampaikan oleh Hidayat  dalam jurnal psikologi (Handayani.dkk, 2000). Dengan demikian maka peran orang tua sangat menentukan bagi perkembangan anaknya kelak. Menurut White (dalam Handayani.dkk, 2000) rumah tangga adalah sekolah pertama dan ibu bapak menjadi gurunya. Di dalam  rumah tanggalah awal titik tolak pendidikan anak-anak. Namun, beberapa orang tua kurang memahami tanggung jawab tersebut. Bahkan Soewandi (dalam Handayani.dkk, 2000) menyatakan masih ada orang tua yang tidak mengerti atau tidak mau mengerti  bahwa dirinya sangat berperan  dalam proses pembentukan kepribadian seorang anak. Sebagian orang tua barang kali tidak mengetahui bagaimana cara yang baik untuk mendidik  anak, sedangkan sebagian yang lain mungkin mempunyai kelainan atau gangguan jiwa atau bahkan hanya sekedar sikap yang kurang baik, sehingga mereka salah mengasuh dan
mendidik anak dan ini berakibat terciptanya anak-anak bermasalah.  Menurut Soewandi (dalam Handayani.dkk, 2000) kemampuan yang ada pada seseorang bukan merupakan hal yang datang dengan sendirinya, tetapi harus dibuat, dibangun dan diupayakan sejak awal pertumbuhan dan bahkan sudah harus diperhatikan sejak masih ada dalam kandungan. Disinilah peran orangtua dirasa sangat penting, sehingga diperlukan pendidikan dan pengasuhan yang baik dan terjamin. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan manusia-manusia yang tangguh dan tahan uji terhadap segala tantangan dapat menjerumuskan kedalam perbuatan tidak terpuji. Salah satu kesalahan pengasuhan atau pendidikan anak adalah dengan menggunakan kekerasan. Kekerasan terjadi dimana saja dan kapan saja, dapat terjadi di sekolah, di rumah, di jalan, di pusat perbelanjaan bahkan sampai di rumah sendiri. Kekerasan secara umum dilakukan oleh pihak yang kuat atau memiliki otoritas terhadap pihak yang lemah. Demikian pula dalam rumah tangga, anak dipandang sebagai pihak yang lemah dan bisa dikuasai sehingga orang tua kadang melakukan tindakan-tindakan yang menonjolkan otoritas tersebut, bahkan dengan kekuasaan yang dimilikinya orang tua bisa melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya dengan alasan untuk mendisiplinkan anak. Bentuk tindak kekerasan yang dialami anak-anak tidak selalu berupa tindakan brutal, sadis dan kejam: seperti memperkosa anak atau menganiaya anak sampai meninggal dunia. Tindak kekerasan yang dialami anak-anak mungkin saja hanya sebatas tindakan memaki, mengolok, mengumpat, memukul, menendang, mencubit, penelantaran, pengabaian, pengancaman, mengeksploitasi atau tindakan lain yang lebih mengakibatkan penderitaan psikologis dari pada menimbulkan bekas luka fisik, seperti luka memar, patah tulang atau kematian anak. Secara garis besar, Terry E Lawson (dalam Suyanto.dkk, 2000: 115) mengemukakan empat macam kekerasan pada anak, yaitu kekerasan emosional (emotional abuse), kekerasan verbal (verbal abuse), kekerasan fisik (physical abuse), dan kekerasan seksual (sexual abuse) (Suyanto.dkk, 2000: 115).  Kekerasan orang tua terhadap anak kerap kali muncul secara sengaja atau tidak dalam pola asuh yang dugunakan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Hal ini tentunya merupakan suatu pendekatan yang rawan untuk perkembangan anak dan remaja. Bila orang tua sebagai lingkungan pendidikan yang pertama kali bagi anak memakai cara kekerasan, besar kemungkinan anak akan mengalami hambatan dalam hubungan dengan lingkungan sosialnya (Handayani.dkk, 2000: 34). Dari hasil penelitian diketahui bahwa pola asuh otoriter memiliki risiko paling tinggi untuk memunculkan perilaku kekerasan terhadap anak. Menurut Stewart dan anak patuh pada perintah-perintahnya. Menurut Sutari Imam Barnadib (dalam Tarmudji, 2001) mengatakan bahwa orang tua yang otoriter tidak memberikan hak anaknya untuk mengemukakan pendapat serta mengutarakan perasaan-perasaannya.  Tindak kekerasan yang diterima anak dari orang tua akan disimpan dan direkam dalam alam bawah sadar dan akan dibawanya sampai masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya. Anak-anak yang mendapat perlakuan kejam dari orang tuanya akan tumbuh menjadi orang yang agresif (Rakhmat, 2002). Seperti dalam penelitian yang dilakukan oleh Tarsis Tarmudji tentang hubungan pola asuh orang tua dengan agresivitas remaja, menyebutkan bahwa hubungan korelasi pola asuh otoriter, dimana pola asuh otoriter memiliki kecenderungan terjadinya kekerasan dengan agresifitas adalah sebesar 0,29150. Hubungan pola asuh otoriter dengan agresifitas pada anak laki-laki adalah 0,34521, dan pada remaja perempuan diperoleh hubungan sebesar 0,21169. Dengan level signifikansi 0,05 dan N=85, nilai kritis sebesar 0,17971. Meskipun  hubungan kedua variabel tersebut menunjukkan indikasi rendah, tetap memberikan info kepada kita bahwa pola asuh otoriter berpeluang untuk memunculkan perilaku agresi. Adanya hubungan pola asuh orang tua dengan keagresifan remaja itu sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Baumrind (Tarmudji, 2001) bahwa keluarga yang suka melakukan hukuman terutama hukuman fisik menyebabkan anak mempunyai sifat pemarah, dan sifat ini sementara ditekan karena norma sosial (barier). Namun suatu saat akan meluapkan amarahnya sebagai perilaku yang agresif. Sedangkan dalam penelitian hubungan antara intensitas kekerasan fisik dan verbal yang diterima anak dari orang tua dengan kecenderungan agresif anak yang dilakukan oleh Leyla Handayani, dkk di SDN Manukan Kulon V Surabaya dengan responden 95 siswa dan menggunakan metode perhitungan analisis  product moment, disini variabel kekerasan fisik dan verbal memberikan sumbangan peran sebesar 1,9 % diantara variabel bebas lainnya yang mempengaruhi variabel kecenderungan agresif (Handayani.dkk, 2000: 38). Menurut penelitian skripsi yang dilakukan oleh Dwi Asih Andarwati di daerah Kelurahan Sisir Kabupaten Batu Pemerintah Kota Batu, dengan subjek 5 orang, waktu penelitian 2 minggu dengan pengamatan pendahuluan selama 6 bulan, serta metode penelitian yang digunakan adalah observasi dan wawancara diperoleh hasil bahwa secara umum anak-anak yang mengalami tindakan kekerasan di rumah cenderung berperilaku agresif di  luar rumah, tempat bermain dan di sekolah. Perilaku agresif biasanya diarahkan pada orang lain yang dianggap lebih lemah darinya walaupun secara fisik dan usia lebih besar (Andarwati, 2003). Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku kenakalan remaja dan agresi yang merupakan salah satu bentuk dari perilaku antisosial dipengaruhi oleh kekerasan yang diterima anak dari orang tuanya, mengingat pada tahap perkembangan awal sebagian besar waktu anak pada umumnya dihabiskan di lingkungan rumah atau dalam pengawasan keluarga. Ini berarti bahwa perkembangan mental, fisik dan sosial individu ada dibawah arahan orangtua atau terpola dengan kebiasaan yang berlaku dalam rumah tangga. Dengan demikian jika seorang remaja menjadi nakal atau liar maka kemungkinan besar faktor keluarga turut mempengaruhi keadaan tersebut. Kondisi keluarga yang dapat menyumbang terhadap terjadinya perilaku antisosial remaja antara lain pemakaian kekerasan oleh orangtua dalam mendididk anak-anaknya.  Anak yang menerima kekerasan dari orangtua dalam jangka waktu yang panjang akan melakukan proses  modelling terhadap perilaku tersebut, hal ini terjadi karena anak menganggap bahwa kekerasan boleh dan benar dilakukan dalam bergaul dengan orang lain, serta bisa diterapkan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Berdasarkan fenomena yang ada peneliti merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul  “HUBUNGAN KEKERASAN ORANGTUA DENGAN PERILAKU ANTISOSIAL REMAJA”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas penulis membuat rumusan masalah, adakah hubungan kekerasan orangtua dengan perilaku antisosial pada remaja?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kekerasan orangtua dengan perilaku antisosial pada remaja. 
D. Manfaat Penelitian
1. Secara teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan yang berarti bagi pengembangan ilmu psikologi terutama Psikologi Perkembangan dan Pendidikan, Psikologi Sosial serta Ilmu Kesehatan Mental.
2. Secara praktis
a. Kepada Guru  Hasil dari penelitian ini diharapkan nantinya dapat memberikan sumbangan informasi yang berarti bagi guru, mengenai dampak dari kekerasan yang dilakukan kepada anak. Sehingga nantinya guru tidak lagi melakukan tindakan kekerasan kepada siswa dengan alasan apapun termasuk untuk mendisiplinkan siswa dilingkungan sekolah.
b. Kepada Orangtua Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberi informasi tentang salah
satu dampak kekersan yang dilakukan orangtua kepada anak-anaknya. Sehingga dari informasi tersebut orangtua  akan lebih berhati-hati dalam menerapkan aturan dan sistem pengasuhan untuk anak-anaknya.

HUBUNGAN JAMINAN KESELAMATAN KERJA DENGAN INTENSI TURNOVER KARYAWAN

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
  Setiap organisasi, terutama organisasi profit seperti perusahaan, sikap dan perilaku karyawan dapat menentukan kualitas dan kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Diantara berbagai sikap dean perilaku karyawan, intensi turnover adalah salah satu masalah yang sangat  menarik karena turnover merupakan keputusan akhir yang melibatkan komitmen terhadap organisasi. Selain permasalahan intensi turnover, permasalahan jaminan keselamatan kerja merupakan fenomena penting dalam organisasi. Dan beberapa penelitian terdahulu yang  dapat dijadikan dasar untuk melakukan penelitian berikutnya yang menyangkut jaminan keselamatan kerja dan intensi turnover karyawan yang terjadi di perusahaan, diantaranya adalah: Menurut Chen, Hui, dan Sego (1998: 922) menyimpulkan bahwa pengujian dari hubungan zero – order mengindikasikan bahwa: a. Keseluruhan OCB (Organizational Citizenship Behavior) mempunyaihubungan negatif dengan turnover aktual dengan nilai rerata =  -0.28 dan p<0.01 b. Intensi turnover mempunyai hubungan yang positif dengan turnover (r=0.15 dan p<0.05) c. Intensi turnover mempunyai hubungan negatif dengan OCB (r=  -0.17 dan p<0.05) Dalam perhitungannya, hubungan  zero  – order menyediakan dukungan umum untuk hipotesis  – hipotesis yang diajukan bahwa OCB dan intensi turnover sama-sama mempengaruhi turnover aktual, sedangkan dari hasil pengujian analisis regresi linier, dari  kofisien beta mengindikasikan bahwa 3 variabel, yaitu: jabatan, intensi turnover, dan OCB memiliki pengaruh yang signifikan dalam turnover aktual, khususnya karyawan  yang bekerja lebih lama dalam organisasi akan lebih suka untuk meninggalkan organisasi  (ß= 0.36 & p<0.05) Karyawan yang memiliki intensi turnover yang kuat, akan lebih suka untuk keluar dari organisasi   (ß= 1.07 & p<0.05); dan karyawan yang memiliki tingkat OCB yang rendah akan lebih suka untuk keluar dari organisasi  (ß= -2.36 & p<0.001) Hasil ini menunjukkan bahwa intensi tunover, seperti halnya OCB merupakan faktor yang memprediksikan turnover aktual karyawan.   Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa intensi turnover menyebabkan Organizational Citizenship Behavior (OCB) rendah, dan menyebabkan terjadinya turnover aktual karyawan.   Beberapa faktor yang mempengaruhi intensi turnover diantaranya adalah kepuasan kerja, kebosanan kerja dan tingkat performansi. Menurut Handi dan Suhariadi (2003: 54) menyebutkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara keadilan organisasi terhadap intensi turnover. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengujian signifikansi yang diperoleh nilai f sebesar 32.234 dengan  tingkat signifikansi p=0.000 jauh lebih kecil dari 0.005. probabilitas yang jauh lebih kecil dari 0.005, dapat dipakai model regresi untuk memprediksi intensi turnover atau dapat diartikan bahwa keadilan distributif dan keadilan prosedural secara bersama-sama berpengaruh terhadap intensi turnover.   Menurut Allen dan Griffeth (2001: 1014) menyebutkan bahwa dari pengujian matriks ada hubungan yang tidak signifikan antara turnover, intensi turnover, maupun kepuasan kerja, walaupun begitu hal tersebut memiliki hubungan yang signifikan positif dengan alternatif-alternatifnya (0.25). seperti diketahui, kepuasan  (-0.52) dan alternatif-alternatif (0.22) dihubungkan dengan intensi turnover. Sedangkan kepuasan kerja  (-0.22) dan intensi turnover (0.45) mempunyai hubungan yang signifikan dengan turnover, meskipun seperti diketahui intensi turnover akan berhubungan lebih erat dengan turnover. Dan apabila dilihat dari model tes struktural maka dapat diketahui bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepuasan kerja dan alternatif-alternatifnya dengan intensi turnover. (masing-masing –0.58 dan 0.23) dan ada hubungan yang signifikan positif antara intensi turnover dengan turnover (0.46). Sedangkan berdasarkan model dan hasilnya, terdapat hubungan yang negatif antara performansi dan turnover, sehingga diharapkan ketika kemungkinan pemberian hadiah tinggi, maka kemungkinan untuk meninggalkan perusahaan bagi karyawan yang berprestasi, akan rendah. Dan jika performansi dapat meningkatkan kepuasan dan memunculkan alternatif-alternatif baru, maka akibat-akibat secara keseluruhan dalam turnover dapat dihapuskan.    Menurut Trevor, Gerhart, dan Boudreau (1997: 44) menyebutkan ada hubungan yang signifikan negatif antara pertumbuhan gaji dengan turnover pada semua tingkatan performansi, tetapi besarnya meningkat dengan jelas sebagai kenaikan performansi. Pertumbuhan gaji mempengaruhi peluang turnover untuk karyawan pada tingkat performansi 4.5 adalah 30% sedang untuk tingkat performansi 5.0 adalah 3.9%. Dan korelasi antara tingkat performansi dan efek pertumbuhan gaji adalah 0.95 (p<0.001). Selain itu ada hubungan yang positif dan signifikan antara promosi dan turnover, dan yang paling kuat terdapat pada dua kategori performansi paling rendah, dan tidak berbeda dari nol (0) untuk lima kategori performansi utama. Korelasi antara tingkatan performansi utama. Korelasi antara tingkatan performansi dan akibat dari promosi terhadap kemungkinan turnover adalah  –87 (p<0.01). sehingga hal ini berarti bahwa pertumbuhan gaji yang tinggi memprediksikan  turnover yang agak rendah, begitu pula sebaliknya pertumbuhan gaji yang rendah memprediksikan turnover yang sangat tinggi. Selain itu ada hubungan negatif antara promosi dan turnover, yang menunjukkan bahwa dengan promosi yang tinggi, maka turnover akan rendah. Begitu pula sebaliknya yaitu jika promosi rendah maka turnover akan tinggi. Menurut Rohmawati (2000: 52) ada pengaruh yang signifikan antara kepuasan kerja terhadap intensi turnover. Seperti terlihat pada hasil analisis dari penelitiannya yaitu dengan nilai f = 75.202 dan p = 0.000 Dengan koefisien determinan variabel kepuasan kerja terhadap intensi turnover adalah 0.507, maka sumbangan efektif kepuasan kerja terhadap intensi turnover sebesar 50.7%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Dari  beberapa penelitian tentang intensi turnover diatas dapat disimpulkan bahwa intensi turnover dipengaruhi oleh keadilan organisasi yang didalamnya terdapat keadilan distributif dan keadilan prosedural, selain itu intensi turnover juga dapat dipengaruhi oleh pertumbuhan gaji, kebosanan kerja, ketidakpuasan terhadap kerja, dan tingkat promosi.  Berdasarkan penelitian-penelitian di atas tidak menutup kemungkinan terdapat faktor lain yang turut mempengaruhi intensi turnover karyawan. Faktor pemberian jaminan keselamatan kerja misalnya. Hal ini di dukung oleh teori hierarki kebutuhan Maslow, dimana faktor safety need atau kebutuhan akan rasa aman merupakan salah satu dari kebutuhan manusia. Dan perlindungan tersebut  bertujuan agar karyawan secara aman melakukan pekerjaannya. Ardani (2003: 107) menyebutkan bahwa dari hasil analisanya menunjukkan ada hubungan yang negatif antara persepsi tentang keselamatan dan kesehatan kerja dengan stres kerja pada pekerja di Pertamina Unit Pengolahan (UP) VI Balongan  – Indramayu  Jawa Barat.Dengan nilai P= 0.008 hal ini menunjukkan ada korelasi negatif yang artinya apabila persepsi tentang keselamatan dan kesehatan kerja pekerja di Pertamina Unit Pengolahan VI Balongan  – Indramayu baik (positif) maka stres kerjanya rendah, sebaliknya apabila persepsi tentang keselamatan dan kesehatan kerja pekerja di Pertamina Unit Pengolahan (UP) VI Balongan  – Indramayu tidak baik (negatif) maka stres kerjanya tinggi. Pekerja Pertamina merasa lingkungan tempat bekerja menjamin keselamatan dan kesehatan kerja bagi dirinya sehingga keadaan tersebut menimbulkan perasaan aman dan nyaman dalam bekerja, serta tidak menimbulkan stres dalam bekerja. Hasil analisa dari Hoffmann, Morgenson, dan Gerras (2003: 170) menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara iklim keselamatan dengan batasan peran keselamatan warga negara dan perilaku keselamatan warga negara (r= 0.23 dan r= 0.48) meskipun hal ini tidak dihipotesiskan. Namun terdapat hubungan yang signifikan antara pergantian pemimpin dengan perilaku keselamatan warga negara (r= 0.40 dan p= 0.01); pergantian pemimpin dan batasan peran keselamatan warga negara (r = 0.29 dan p= 0.01); serta batasan peran keselamatan warga negara dengan perilaku keselamatan warga negara (r= 0.35 dan p= 0.01). Dalam penelitian ini keadaan organisasi bertindak sebagai moderator dari hubungan antara pergantian pemimpin dan batasan peran keselamatan warga negara. Secara khusus, dalam konteks kerja, apabila terdapat iklim keselamatan yang lebih positif, karyawan menjadi lebih menyukai  melihat perilaku keselamatan warga negara sebagai bagian dari tanggung jawab formal mereka. Frances, Tjahjoanggoro, dan Atmaji (2001: 215) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara sikap terhadap manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dengan OCB, hal ini dilihat dari nilai r = 0.830 dan p = 0.000. Subyek yang memiliki sikap terhadap manajemen keselamatan dan kesehantan kerja sangat tinggi, memiliki OCB yang sangat tinggi pula (50%). Hal ini berarti bahwa jika sikap  terhadap manajemen keselamatan dan kesehatan kerja tinggi, OCB juga kan tinggi, dan sebaliknya jika sikap terhadap manajemen keselamatan dan kesehatan kerja rendah, OCB juga akan rendah.  Dari penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja mempengaruhi stres kerja, rasa aman dan nyaman. Selain itu iklim keselamatan juga berpengaruh terhadap batasan peran keselamatan warga negara dan perilaku keselamatan warga negara. Sedangkan sikap terhadap manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dapat mempengaruhi OCB, jadi apabila sikap terhadap manajemen keselamatan dan kesehatan kerja baik maka OCB akan tinggi.  Mawardi (2003: 3) menyebutkan bahwa dari hasil penelitiannya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan keterlibatan sebagai agen perubahan keselamatan kerja dengan nilai p = 0.041 dan r =  -0.41. Hal ini berarti bahwa faktor gaya kepemimpinan tidak mempengaruhi karyawan dalam keterlibatannya sebagai agen perubahan keselamatan kerja. Sedangkan  untuk “Active  – Management by Exeption” (suatu faktor dalam gaya kepemimpinan transaksional dan Laissez Faire (Non Leadership Style) justru memiliki hubungan positif dengan persepsi terhadap praktek manajemen keselamatan kerja. Sehingga Active  – Management by Exeption dan Laissez Faire yang baik akan memunculkan persepsi praktek manajemen keselamatan kerja yang baik. Begitu pula sebaliknya, jika Active  – Management by Exeption dan Laissez Faire yang buruk akan memunculkan persepsi praktek manajemen keselamatan kerja yang buruk. Dalam hal ini iklim keselamatan dalam suatu organisasi diharapkan menjadi hal yang sama dalam semua lapisan organisasi yaitu untuk menghindari permasalahan.  Asnawi (2002: 24) menyebutkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara keterlibatan pelaksanaan tugas dengan disiplin palaksanaan peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja karyawan yang dapat diketahui dari hasil koefisien korelasi sebesar 0.741 dengan p<0.05. Hal ini berarti bahwa aktivitas dalam menjalankan tugas memerlukan adanya perhatian terhadap peraturan pelaksanaan disiplin, sehingga semakin terlibat seseorang dalam suatu aktivitas pekerjaan maka semakin tinggi perhatian atau disiplinnya dalam melaksanakan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja. Apabila yang bersangkutan tidak disiplin dalam melaksanakan peraturan K3, maka kemungkinan besar akan tertimpa kecelakaan atau membahayakan kesehatannya sendiri. Pelaksanaan disiplin terbukti dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah keterlibatan pelaksanaan tugas,  yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap disiplin pelaksanaa K3 yaitu sebesar 57.7% artinya keterlibatan pelaksanaan tugas dapat menjadi faktor dominan dalam pembentukan disiplin pelaksanaan peraturan K3 dibandingkan dengan faktor – faktor lain. Dalam menumbuhkan iklim keselamatan pada karyawan, ada faktor yang mempengaruhinya yaitu pergantian pemimpin. Sedangkan untuk persepsi praktek manajemen keselamatan kerja dipengaruhi oleh suatu faktor gaya kepemimpinan transaksional yaitu “Active  – Management by Exeption” dan Laissez Faire. Selain itu disiplin pelaksanaan peraturan keselamatan dan kesehatan kerja dipengaruhi oleh keterlibatan pelaksanaan tugas dalam organisasi. Secara garis besar dapat diambil kesimpulan bahwa intensi turnover disebabkan oleh kebosanan dan ketidakpuasan kerja, karena karyawan-karyawan yang tidak puas lebih besar kemungkinannya untuk meninggalkan pekerjaan daripada mereka yang merasa puas.  Dan salah satu faktor yang dapat menumbuhkan kepuasan kerja adalah dengan pemberian jaminan yaitu jaminan fisik dan non fisik. Jaminan fisik dapat berupa tunjangan hari tua, jaminan kematian, jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan, dll. Sedangkan jaminan non fisik berupa perasaan aman, yang dapat ditimbulkan dengan penciptaan kondisi lingkungan kerja yang aman secara fisik dan psikis. Hal ini disebabkan karena kondisi kerja merupakan faktor yang penting dalam usaha mempertahankan karyawan. Dewasa ini keselamatan kerja telah merupakan bagian terpenting dari manajemen perusahaan. Keselamatan kerja merupakan tanggung jawab semua pihak, sehingga  banyak pengusaha yang menganggap upaya pengadaan jaminan keselamatan kerja sangat bermanfaat dalam meningkatkan keuntungan bagi perusahaannya disamping dapat meningkatkan semangat kerja karyawannya serta mengurangi intensi turnover karyawan. Karena dengan pemberian jaminan keselamatan yang berupa jaminan kesehatan, asuransi kecelakaan diri, jaminan kematian dan tunjangan hari tua serta pemberian Alat Perlindungan Diri (APD) seperti masker, ear plug, helm, kaos tangan dan sebagainya dapat meningkatkan rasa aman karyawan, sehingga karyawan akan lebih giat dalam bekerja dan hal ini dapat mengurangi keinginan karyawan untuk keluar dari perusahaan.  Berdasarkan hasil studi pendahuluan di lapangan, maka didapatkan bahwa bagian produksi di PT. Otsuka Indonesia memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya ancaman keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini dikarenakan di PT. Otsuka Indonesia memiliki jumlah karyawan yang cukup banyak dan para karyawan bagian produksi berhadapan dengan zat  – zat berbahaya yang memungkinkan terjadinya kecelakaan, dan apabila bersentuhan langsung atau asuk dalam tubuh manusia melebihi nilai ambang batas dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan sel tubuh manusia, memicu pertumbuhan sel kanker, menghambat dan merusak kemampuan tubuh dalam menghasilkan  antibody, mengakibatkan cacat tubuh, hingga kematian. Dimana zat-zat tersebut digunakan sebagai bahan pembuatan cairan infus, obat-obatan, alat-alat kesehatan dan minuman isotonic bermerek POCARI SWEAT.  Selain resiko-resiko yang disebabkan oleh zat-zat berbahaya, ada juga yang disebabkan oleh alat-alat berat yang digunakan untuk proses produksi, seperti ketel uap, dimana uap panas dari ketel uap ini dikirim untuk proses produksi. Ketel uap ini memerlukan  perawatan khusus dan harus selalu diperhatikan tekanannya agar tetap stabil, karena apabila tekanannya berlebih dapat menimbulkan ledakan, sehingga akan membahayakan seluruh karyawan dan masyarakat yang ada di sekitar PT. Otsuka Indonesia. (Hal ini sesuai  dengan yang dikemukakan oleh Bapak Suriswoto, kepala bagian K3). Namun selama 6 tahun terakhir PT.Otsuka Indonesia telah 2 kali mendapatkan Bendera Emas yaitu pada tahun 2000 dan 2003 serta mendapatkan penghargaan Zero Accident sebanyak 6 kali, yang berarti bahwa di PT. Otsuka Indonesia tidak pernah terjadi kecelakaan besar yang menyebabkan hilangnya jam kerja. Penghargaan ini diberikan langsung dari presiden. Hal ini memunculkan dugaan bahwa pelaksanaan jaminan keselamatan kerja yang ada di PT. Otsuka Indonesia telah berjalan cukup baik. Namun apakah dengan telah diterapkannya jaminan keselamatan kerja yang cukup baik tersebut mampu mempertahankan karyawan untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut ataukah masih ada karyawan yang mempunyai niat untuk keluar dari perusahaan tersebut.   Berangkat dari uraian diatas maka penelitian ini mengambil judul “Hubungan antara Jaminan Keselamatan Kerja dengan Intensi Turnover Karyawan pada PT. Otsuka Indonesia Lawang”.
B. Rumusan Masalah
  Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut, Apakah ada hubungan antara Jaminan Keselamatan Kerja dengan Intensi Turnover karyawan pada PT. Otsuka Indonesia Lawang.
C. Tujuan Penelitian
  Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui  hubungan antara Jaminan Keselamatan Kerja dengan Intensi Turnover karyawan PT. Otsuka Indonesia Lawang.
D. Manfaat Penelitian
1.  Secara Teoritis Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahua  khususnya ilmu psikologi industri dan organisasi.
2.  Secara Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti, karyawan, dan dapat digunakan oleh perusahaan sebagai pertimbangan dalam menentukan kebijakan perusahaan sehubungan dengan jaminan keselamatan kerja yang dapat mempengaruhi intensi turnover karyawan, sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai pemikiran untuk meningkatkan produktifitas dan keberhasilan perusahaan.

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT SELF ESTEEM DENGAN SELF DISCLOSURE SAAT CHATTING DI INTERNET

BAB I PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah
      Zaman Globalisasi yang semakin maju ini memunculkan hasil teknologi yang berkembang contohnya saja komputer, hampir semua orang tertarik dengan komputer dengan generasi baru perangkat internet yang tampaknya mempunyai kemampuan tak terbatas. Internet memenuhi semua persyaratan untuk mempelajari ketrampilan.       Internet bukan hanya sebagai wadah informasi tetapi juga dianggap sebagai (Shafiro  2001: 338) metode yang dulu dingin dan kaku, sekarang merupakan cara yang paling banyak dipakai untuk memanfaatkan internet dan jasa on-line. Selanjutnya Shafiro menerangkan bahwa pemanfaatan jasa on-line yang paling populer dikalangan anak-anak, pra remaja dan remaja adalah fasilitas “Ruang mengobrol” (chat room), yaitu jenis surat elektronik yang terbuka dan langsung.     On-line  chatting adalah percakapan yang didasarkan pada teks kita mengetik pesan di layar komputer, sementara orang lain melihatnya dari tempat mereka dengan segera, kemudian orang tersebut memberikan respon dan pada saat itulah percakapan dimulai (Glikbarg, 1995).     Berkomunikasi antar pribadi atau secara ringkas berkomunikasi merupakan keharusan bagi manusia. Manusia membutuhkan dan senantiasa berusaha membuka diri serta menjalin hubungan dengan sesamanya.    Selain itu ada sejumlah kebutuhan yang dalam diri manusia membutuhkan dan senantiasa berusaha membuka diri serta menjalin hubungan dengan sesamanya. Oleh karena itu penting bagi kita menjadi terampil dalam berkomunikasi (Supratiknya, 1995:9).    Pada saat berkomunikasi melalui internet, Newitz (1995) menemukan bahwa sering kali orang bertingkah laku sangat berbeda dari yang biasa mereka lakukan di kehidupan yang sebenarnya. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik di dalam dunia internet yang berbeda dari dunia sehari-hari. Prinsip anonimitas yang terdapat didalam dunia internet menyebabkan tingginya ketidakpastian yang kita peroleh saat  chatting.  Ketidakpastian informasi yang tinggi ini merupakan salah satu faktor yang membuat komunikasi tidak jujur (deceptive).    Hal tersebut sangat berperan disaat  defense terjadi karena rendahnya harga diri seseorang saat  chatting yang akan berpengaruh kepada pengungkapan dirinya sehingga terjadi pengungkapan diri yang tidak efektif didalamnya. Seperti yang dijelaskan oleh (Clemes dan Bean 32:1995) bahwa kita cenderung berperilaku menurut bagaimana kita sendiri dan perasaan harga diri kita. Oleh karena itu perilaku seseorang dalam berkomunikasi pun tidak bisa dilepaskan oleh harga dirinya.    Seperti yang telah diuraikan  diatas bahwa manusia membutuhkan menjalin hubungan dengan sesamanya. Agar seseorang itu dapat diterima dengan teman komunikasinya seseorang berusaha untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik saat berinteraksi. Seperti dijelaskan oleh Depaulo dan Kashy (1998) mengemukakan beberapa alasan mengapa seseorang berbohong. Seseorang berbohong dalam kehidupan sehari-hari untuk membuat diri mereka atau merasa lebih baik, untuk melindungi mereka dari hal-hal yang memalukan ataupun untuk menghindari penolakan (agar perasaannya tidak dilukai).     Berdasarkan pandangan tersebut bahwa kebohongan yang dilakukan oleh seseorang berkaitan dengan evaluasi diri yang ia miliki dan yang akan berpengaruh pada self disclosure.     Hal ini dilakukan oleh hasil penelitian berikut: Ward (dalam Bricault,1998) menemukan korelasi yang positif antara  self esteem  dan kejujuran, dimana semakin positif self esteem yang dimiliki seseorang, semakin tinggi tingkat kejujuran yang dimiliki orang tersebut.    Oleh karena itu komunikasi berjalan dengan efektif jika seseorang dapat mengungkapkan diri dengan baik. Hal ini didukung oleh Tri Dayakisni dkk  (2001:47) menerangkan bahwa dalam suatu interaksi antara individu dengan orang lain, apakah orang lain akan menerima atau menolak kita, bagaimana kita ingin orang lain mengetahui tentang kita akan ditentukan oleh bagaimana individu dalam mengungkapkan dirinya.    Hal ini didukung oleh Morton (dalam Sears 1988:254) bahwa pengungkapan diri atau keterbukaan diri merupakan kegiatan membagi perasan dan informasi yang akrab dengan orang lain. self disclosure dapat bersifat deskriptif  dan evaluatif seperti dapat melukiskan berbagai fakta mengenai diri kita yang mungkin belum diketahui oleh pendengar seperti pekerjaan, tempat tinggal kita, bahwa kita merasa cemas karena terlalu gemuk. Raven dan Rubin (dalam Tri Dayakisni dkk, 2001 ) mengatakan dalam proses  self disclosure nampaknya individu-individu yang terlibat memiliki kecenderungan mengikuti norma resiprok (timbal balik). Bila seseorang menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi pada kita, kita akan cenderung memberikan reaksi yang sepadan. Pada umumnya kita mengharapkan orang lain memperlakukan kita sama seperti kita memperlakukan mereka.     Self esteem dalam berkomunikasi saat chatting merupakan salah satu faktor penting untuk menentukan pengungkapan diri seseorang dengan teman chatting nya. Keefektifan komunikasi yang dilakukan seseorang saat chatting terkait dengan karakteristik psikologis yang dimiliki seseorang tersebut yaitu self esteem orang itu sendiri.     Menurut Branden (2001:5)  self esteem  adalah perpaduan antara kepercayaan diri (Self confidence) dengan penghormatan diri (Self respect). Dimana self esteem itu merupakan salah satu komponen konsep diri. Dalam psikologi sosial ada dua komponen konsep diri, yaitu citra diri (self image) dan harga diri (self esteem) kedua komponen ini menurut Brooks dan Emmert (dalam Rakhmat 1993:100) berpengaruh besar kepada pola komunikasi kita dengan orang lain.    Pengaruh self esteem tersebut dapat terlihat pada perilaku komunikasi kita khususnya pada self disclosure seseorang saat chatting. Oleh karena itu cara berperilaku seseorang saat chatting pun tidak bisa lepas dari pengaruh self esteem orang itu sendiri. Dimana seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi akan mampu untuk menghargai dirinya sendiri tanpa harus tergantung pada penilaian orang lain tentang sifat atau kepribadiannya baik itu positif maupun negatif. oleh karena itu apabila orang berkomunikasi saat chatting, seseorang yang memiliki self esteem yang tinggi tersebut akan cenderung mampu untuk menunjukkan self disclosure yang efektif dalam berkomunikasi yaitu: bersikap terbuka, mampu berempati, bersikap positif dalam proses komunikasinya dan merasa setara dengan pasangan komunikasinya. Sebaliknya self esteem yang rendah kurang dapat mengekspresikan dirinya dengan baik, takut gagal dalam hubungan sosial.    Hal itulah yang menyebabkan dalam berkomunikasi saat  chatting seseorang akan cenderung mampu untuk menunjukkan pengungkapan diri yang efektif. Hal tersebut didukung oleh suatu studi yang dilakukan oleh Utz (2000) menemukan bahwa 73,6% dari seluruh responden mereka mendapatkan teman melalui chatting di internet. Dimana hal tersebut merupakan salah satu faktor manifestasi dari adanya aspek keterbukaan dalam proses self disclosure yang efektif. Didukung oleh Sears (1988:254) bahwa sejalan dengan perkembangan suatu hubungan yang akrab, orang semakin berani mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi tentang dirinya.    Hasil penelitian Surjadi dan Arman (2002:25) menunjukkan bahwa korelasi negatif yang signifikan antara tingkat  self esteem dengan kecenderungan berbohong saat  chatting  di internet. Penelitian ini menggambarkan tidak ada perbedaan tingkat  self esteem antara pria dan wanita. Walaupun sebagian besar responden dalam penelitian ini memiliki skor self esteem yang bertanda positif (94,2%), namun hal tersebut tidak diikuti dengan skor kecenderungan berbohong yang rendah (ditunjukkan dengan korelasi yang tidak signifikan). Kemungkinan hal tersebut terjadi karena meskipun responden melakukan chatting dengan tujuan untuk mencari teman atau kenalan baru di internet, namun mereka tidak menganggapnya sebagai suatu hal yang serius, hanya sebagai salah satu cara untuk mengisi waktu luang atau sekedar iseng saja.    Agar kontak sosial dapat berlangsung dengan efektif dan efisien, maka diperlukan suatu kemampuan untuk mengungkapkan diri (self disclosure) karena  self  disclosure  merupakan faktor yang dapat mengembangkan dan memelihara kontak sosial atau hubungan interpersonal individu dengan orang lain.    Dengan membuka dirinya dengan orang lain, yaitu menceritakan apa yang difikirkan, dirasakan atau dibutuhkan dan diinginkannya. Dalam chatting diperlukan suatu hubungan yang timbal   balik yaitu individu juga ikut merasakan, memahami dan memperhatikan orang lain sehingga terbentuk rasa saling mempercayai satu sama lain.     Self disclosure merupakan aspek penting dalam komunikasi karena komunikasi dengan orang lain akan lebih lancar apabila seseorang mempunyai dan berani mengungkapkan pikiran perasaannya secara terbuka. Hal ini sesuai dengan definisi self disclosure yaitu mengungkapkan reaksi atau tanggapan terhadap situasi yang sedang dihadapi serta memberikan informasi yang relevan atau berguna untuk memahami tanggapan dimasa kini (Johnson dalam Mulyati : 2000:5).    Self disclosure saat  chatting merupakan tindakan dengan sengaja menyatakan informasi-informasi yang bersifat pribadi terhadap orang lain, yang sangat penting dalam hubungannya antar pribadi sejalan dengan hubungan dari yang dangkal sampai  menjadi hubungan yang akrab, orang semakin berani mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi tentang dirinya. Kita tidak hanya membicarakan musik, sikap terhadap agama dan pengalaman terhadap seseorang yang masih asing.    Self disclosure sangat penting dalam hubungan antara pribadi karena merupakan satu-satunya cara untuk dapat mengetahui dan memahami dengan tepat apa yang sedang dialami oleh seseorang. Hal ini disebabkan karena tingkah laku seseorang dapat diamati sedangkan pengalamannya tidak dapat diamati sehingga seseorang perlu dalam mengungkapkan dirinya agar orang lain dapat memahami apa yang dialamimya secara tepat.    Dengan membicarakan masalah-masalah yang dihadapi kepada seorang teman chatting pikiran kita akan lebih jernih sehingga kita akan dapat melihat dulu permasalahan yang dihadapi dengan lebih baik. Self disclosure merupakan dasar bagi hubungan antara dua dan dasar yang memungkinkan komunikasi intim baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Self disclosure pada orang lain menjadi nilai penting yang digunakan untuk memilih teman (Hurlock, 1996: 215).    Dalam mengungkapkan diri pada orang lain, keintiman suatu hubungan akan terjadi sedangkan bila individu tidak mengungkapkan informasi dirinya pada orang lain menyebabkan individu kurang bisa memelihara suatu hubungan yang efektif, dalam artian kurang bisa berbagi rasa yang tulus atau bersikap jujur dengan orang lain. Kita akan lebih menyukai seseorang yang mampu mengungkapkan dirinya dan menuntut kita untuk mengungkapkan diri dalam taraf yang sesuai dengan situasi dan sifat hubungan pada saat itu.    Untuk dapat mengungkapkan diri  tentu saja sebelumnya harus memahami kualitas diri yang terbentuk dari harga diri individu itu sendiri.    Ditambahkan oleh Coopersmith (1967:243) bahwa salah satu ciri dari individu yang memiliki self esteem rendah adalah menjadi defensif. Hal itu yang menyebabkan dalam self disclosure seseorang defensif.     Sikap percaya diri  (Self confidence)  sangat diperlukan dalam proses pengungkapan diri dalam komunikasi karena dengan adanya kepercayaan diri yang tinggi maka individu tersebut tidak akan memandang situasi komunikasi sebagai hal yang menakutkan dan perlu dihindari. Tetapi malah dipandang sebagai suatu tantangan bagi dirinya untuk mengembangkan kemampuannya dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Rakhmat (1993:109) bahwa orang yang kurang percaya diri akan sedapat mungkin menghindar dari situasi komunikasi. Ia takut akan orang lain mengejek dan menyalahkannya.    Maka dalam proses self disclosure saat chatting seseorang akan mampu memperlakukan pasangan komunikasinya secara hormat dan layak dalam istilah psikologi sebagai perilaku asertif karena seperti yang dituturkan oleh Branden (2001:7) bahwa semakin kokoh self esteem, semakin hormat dan bijak ia dalam memperlakukan orang lain karena tidak memandang sebagai ancaman.    Berdasarkan uraian diatas,  penulis berkeinginan untuk mengetahui hubungan antara tingkat self esteem dengan self disclosure saat chatting di internet.
B. Rumusan Masalah
    Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:  Apakah ada hubungan antara tingkat self esteem dengan self disclosure saat chatting di internet.
C. Tujuan Penelitian
   Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah:  Untuk mengetahui hubungan antara tingkat self esteem dengan self disclosure saat chatting di internet.
D. Manfaat penelitian
 1. Secara teoritis   Diharapkan penelitian ini dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu psikologi.
 2.  Secara praktis   Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada orang, yang diperoleh dari kondisi dunia sehari-hari. Pada saat  chatting dimana seseorang berpura-pura menjadi orang lain atau sesuatu yang bukan sebenarnya adalah hal yang umum dilakukan di internet.

HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY MATEMATIKA DENGAN PRESTASI MATEMATIKA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan masyarakat modern, matematika di pandang sebagai suatu ilmu pengetahuan untuk masa kini yang meliputi pengetahuan tentang berhitung dan ilmu ukur ruang. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu cara berpikir yang logis, rasional, dan eksak agar dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang berhubungan dengan matematika. Untuk mempelajari dan menguasai matematika di tuntut suatu ketelitian dalam pemecahannya agar mendapatkan hasil yang tepat dan arahnya jelas yaitu sesuai penalaran yang benar. Pada masyarakat umum, seringkali prestasi anak pada pelajaran matematika dijadikan patokan kecerdasan. Orang tua akan cemas apabila anaknya kurang berprestasi dan memperoleh nilai matematika yang memuaskan. Ini mungkin terjadi, karena matematika memegang peranan dalam sebuah kurikulum akademik, serta digunakan dalam Ujian Akhir Negara, walaupun ada beberapa kasus yang terjadi pada pelaksanaan Ujian Akhir Negara tahun 2004 bahwa banyaknya siswa yang harus mengikuti ujian ulang karena nilai matematika yang dicapainya tidak memenuhi target, yaitu sebesar 4.01, dan ini terjadi di beberapa propinsi (Liputan6.com). Lebih dari itu, matematika juga dapat digunakan sebagai sebuah prediktor keberhasilan seseorang yang kuat saat adanya seleksi (seleksi untuk mencapai yang terbaik dalam sebuah perlombaan cerdas cermat, seleksi untuk mendapatkan beasiswa). Hingga saat ini belum ada kesepakatan yang bulat diantara matematikawan dalam memberikan pengertian yang tepat tentang matematika itu sendiri. Tapi Sujono pada tahun 1988 (Hamzah, 2003 :1) mencoba memberikan beberapa definisi matematika, diantaranya matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak dan terorganisir secara sistematis. Salah satu karakteristik matematika adalah memiliki objek yang bersifat abstrak. Sifat abstrak ini menyebabkan banyak siswa mengalami kesulitan dalam matematika. Prestasi matematika siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Third International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) pada tahun 1999 melaporkan bahwa rata-rata skor matematika siswa tingkat 8 (setara kelas II SLTP) Indonesia jauh di bawah rata-rata skor matematika siswa internasional dan berada dirangking 34 dari 38 negara (dalam Suharta, 2002 :1). Rendahnya prestasi matematika siswa disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah yang dalam mempelajari matematika. Selain itu belajar matematika bagi siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep matematika itu sendiri sangat lemah. Sebagai contoh, seperti yang umumnya terjadi di Indonesia, pengajaran murid sekolah yang dilakukan oleh guru umumnya menerapkan metode ceramah, memberi contoh, memberi soal latihan sebelum akhirnya soal itu dibahas bersama-sama. Hal itu pun terjadi pada mata pelajaran matematika yang merupakan salah satu pelajaran pokok pada kurikulum sekolah di Indonesia. Guru jarang, bahkan mungkin tidak pernah sama sekali melibatkan siswa dalam mempelajari matematika secara langsung dalam kehidupan nyata, misalnya mengajak siswa untuk pergi kepertokoan untuk mempraktekkan sendiri cara perhitungan discount atau potongan harga di pertokoan tersebut. Atau mengajak siswa pergi ke sebuah kolam renang untuk menghitung sendiri secara langsung berapa volume air yang ada di kolam renang tersebut. Metode mengajar dengan hanya berpatok pada teori dan pembelajaran dikelas, tidak jarang membuat siswa merasa cepat bosan ketika diberikan materi pelajaran. Akibatnya motivasi untuk lebih mengerti dan menguasai materi matematika itu sendiri otomatis akan menurun. Matematika hanya di anggap sebagai sebuah kewajiban untuk di pelajari karena tercantum dalam kurikulum akademik, tanpa ada pemaknaan lebih dalam lagi tentang matematika itu sendiri serta manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Selain kurangnya motivasi dari dalam diri siswa, pengalaman-pengalaman terdahulu yang kurang menyenangkan dari proses mempelajari matematika, baik dialami oleh siswa secara langsung maupun tidak langsung, juga mempengaruhi persepsi siswa tentang pelajaran matematika. Jika siswa berpersepsi tidak menyenangkan pada matematika, maka siswa akan menjadi enggan untuk mempelajari matematika lebih giat dan memiliki prestasi yang lebih tinggi. Berikut adalah sedikit gambaran mengenai peranan self efficacy. Ketika siswa mengalami situasi yang tidak menyenangkan seperti diatas, maka keyakinan akan kemampuannya untuk mengorganisir dan mengontrol penggunaan kemampuannya, khususnya dalam keterampilannya pada mata pelajaran matematika dapat digunakan sebagai motivator, sehingga siswa akan memperbesar usahanya agar dapat mencapai prestasi seperti yang diharapkannya. Semakin tinggi self-efficacy yang di miliki individu, maka akan semakin tinggi pula motivasi individu tersebut untuk memperbesar usahanya agar mencapai hasil yang lebih optimal. Self-efficacy sendiri, seperti yang disimpulkan dari pendapat Bandura pada tahun 1981 (Pajares&Schunk, 2001 :1) adalah penilaian seseorang terhadap kemampuannya dalam mengorganisir, mengontrol, dan melaksanakan serangkaian tingkah laku untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Tapi di Indonesia sendiri, banyak di antara para pendidik, khususnya dibidang matematika belum sadar bahkan belum mengetahui fakta bahwa salah satu aspek psikologi yang dinamakan self efficacy ini dapat mempengaruhi pencapaian prestasi seorang siswa. Semakin tinggi self eficacy yang dimiliki seorang siswa, maka akan semakin baik prestasi yang mampu dicapainya. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah self efficacy yang dimiliki seorang siswa, maka akan semakin rendah pula prestasi yang mampu dicapai siswa tersebut. Hasil penelitian yang dilakukan Betz dan Hacket pada tahun 1983 (Pajares, 2002:11) melaporkan bahwa dengan self efficacy yang tinggi, maka pada umumnya seorang siswa akan lebih mudah dan berhasil melampaui latihan-latihan matematika yang di berikan kepadanya, sehingga hasil akhir dari pembelajaran tersebut yang tercermin dalam prestasi akademiknya juga cenderung akan lebih tinggi di bandingkan siswa yang memiliki self efficacy rendah. Selain itu menurut Hacket di tahun 1985 dan Reyes tahun 1984 (Pajares, 2002:10) self efficacy juga dapat membuat seseorang lebih mudah dan lebih merasa mampu untuk mengerjakan soal-soal matematika yang dihadapinya, bahkan soal matematika yang lebih rumit atau spesifik sekalipun. Penelitian mengenai self efficacy di bidang matematika sudah dilakukan oleh beberapa ahli. Diantara pada tahun 1982 oleh Colin (Bandura, 1997 :214) dalam penelitian yang menyeleksi anak-anak sekolah yang menilai diri mereka masuk kedalam efficacy tinggi dan efficacy rendah dalam tiap level kemampuan matematika. Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa hanya memperlihatkan sedikit kemampuannya karena salah satu atau kedua sebab ini, yaitu kurangnya keterampilannya dalam memecahkan soal-soal yang di berikan atau karena mereka memiliki kemampuan tapi kurang mampu menggunakan personal efficacy yang dimilikinya secara optimal. Pietsch, Walker, dan Chapman (Journal of Education Psychology Vol. 95, No. 3, 2003 : 589-603) dalam penelitiannya memberikan soal-soal matematika siswa kelas 9 dan 10 pada siswa kelas 8 sebelum diberikan skala self-efficacy. Setelah dua minggu siswa kelas 8 diberikan soal-soal matematika lagi yang kurang lebih tingkat kesulitannya sama dengan yang diberikan sebelumnya. Setelah itu hasil yang berupa nilai dari kedua tes tersebut dibandingkam dan hasilnya ternyata nilai hasil dari tes yang kedua nilainya lebih baik dari yang pertama. Dari hasil ini dapat ditarik kesimpulan siswa yang berusia 13-15 tahun, yang merupakan kriteria sampel dalam penelitian ini, dapat mengembangkan efficacy belief-nya ketika mereka dihadapkan pada soal-soal matematika yang relatif sulit Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang hubungan self-efficacy matematika dengan prestasi matematika siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Adakah hubungan antara self efficacy matematika dengan prestasi matematika siswa Sekolah Menengah Pertama?”

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : “Untuk mengetahui hubungan antara self efficacy matematika dengan prestasi matematika siswa Sekolah Menengah Pertama”

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik dari sisi teoritis maupun praktis. Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi
pengembangan ilmu psikologi pada umumnya dan psikologi pendidikan pada khususnya.
2. Manfaat praktis Dengan penelitian ini, maka diharapkan pendidik beserta orang tua mengetahui peran penting self efficacy sebagai salah satu aspek psikologi yang dapat menunjang prestasi anak agar lebih optimal, khususnya dibidang matematika, dan dapat menerapkan metode bimbingan dan pengajaran yang lebih baik agar dapat meningkatkan self efficacy yang dimiliki siswa sehingga prestasi matematika siswa juga diharapkan dapat mencapai taraf yang lebih baik.

HUBUNGAN ANTARA RASA SYUKUR DENGAN KEPERCAYAAN DIRI

BAB I PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Percaya diri adalah salah satu aspek psikis manusia yang sangat penting untuk dipupuk dan dikembangkan. Sukses tidaknya seseorang dalam berinteraksi secara sosial terhadap lingkungannya adalah tergantung bagaimana cara mereka mengembangkan kepercayaan dirinya. Seseorang bisa suskes dalam bergaul dengan orang lain, mudah memperoleh teman, sukses dalam pekerjaan dan sebagainya adalah karena kepercayaan diri yang dimilikinya. Tumbuhnya percaya diri menyebabkan seseorang melakukan penyesuaian diri yang baik pula terhadap lingkungannya. Hambly (1995:1) beranggapan bahwa bila seseorang mampu meningkatkan kepercayaan dirinya, maka hubungannya dengan orang lain akan menjadi lebih baik, pekerjaan menjadi lebih mudah dan hidup menjadi lebih memuaskan. David Staat dalam A Dictionary of Human Behavior, mendefinisikan self confidence adalah penuh percaya diri, tampil beda dan yakin pada diri sendiri. Pendapat David ini dapat dilihat kesamaannya dengan pendapat Adler yang ditulis dalam bukunya yang berjudul The Dynamis of Human Communication, bahwa salah satu unsur dari rasa percaya diri adalah menghargai diri sendiri, kemudian tumbuhnya keyakinan serta kepercayaan bahwa ia memiliki kelebihan yang, mungkin tidak dimiliki orang lain (Richard & Rychman, 1995:106). Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang bisa memiliki percaya diri, salah satunya yaitu dengan memiliki penampilan fisik yang menarik, menjadi dambaan setiap orang. Bagi individu yang mempunyai bentuk dari penampilan fisik yang ideal akan terlihat lebih menarik bila dibandingkan dengan individu yang mempunyai penampilan fisik yang kurang menguntungkan. Individu yang memiliki penampilan yang menarik seringkali lebih banyak menjadi pusat perhatian, oleh sebab itu tidak salah bila banyak orang berpendapat bahwa penampilan merupakan salah satu modal percaya diri. Berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Siaran (2002:2), berkerjasama dengan Rumah Sakit ULM menyimpulkan bahwa ternyata anak-anak yang mempunyai penampilan fisik yang kurang menarik seperti kelebihan berat badan memiliki percaya diri yang rendah. Centi (1993:36) mejelaskan bahwa orang yang puas dengan keadaan dan penampilan fisiknya, pada umumnya memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi daripada yang tidak, karena penampilan fisik merupakan hal yang paling tampak dari kepribadian seseorang dan menciptakan kesan awal bagi orang lain. Kenyataannya tidak semua orang memiliki bentuk dan penampilan fisik yang menarik. Bagi mereka yang memiliki cacat fisik, percaya diri yang tinggi sangat penting bagi mereka. Sebab, jika tidak memiliki kepercayaan diri karena kekurangan yang dimilikinya, maka dapat menyebabkan mereka merasa takut, putus asa, pemalu, murung, tidak bebas, dan cenderung sedapat mungkin menghindari situasi komunikasi (Abd. Azis, dalam Kumara, 988:12). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Marfiyanti (2001:58), manyimpulkan bahwa semakin tinggi rasa percaya diri maka semakin tinggi pula efektivitas komunikasi individu. Penelitian dengan subyek sebanyak 40 orang dengan pendidikan SMU hingga S1 ini diketahui ternyata faktor percaya pada kemampuan pribadi merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap rasa percaya diri dibanding faktor lainnya. Hal ini disebabkan karena sesorang yang percaya kepada kemampuan yang dimilikinya atau dengan kata lain memiliki keyakinan yang positif akan lebih percaya diri, sehingga akan mempunyai keberanian untuk berkomunikasi. Berdasarkan banyak kasus yang terjadi dalam masyarakat, pada umumnya percaya diri yang dialami mereka terjadi karena masalah yang berhubungan dengan ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri. Mereka merasa bahwa fisik yang ideal dan sempurna akan menjadikan mereka sangat percaya diri dihadapan teman-temannya. Seperti kasus yang dialami oleh Laras yang sejak masuk SMA, bukan lagi anak yang periang, ia kini lebih sering murung dan mengurung diri dalam kamar. Sekolahpun bukan lagi memberikan kesenangan bagi dirinya seperti ketika di SMP. Bahkan sebaliknya, ia merasa tersiksa setiap mau berangkat sekolah, sebab teman-teman barunya disekolah suka menertawakan karena dia hanya memiliki satu tangan akibat kecelakaan yang dialaminya. Ia sering dijadikan bahan canda dan sumber kelucuan. Akibatnya Laras menjadi tidak percaya diri dan benci pada diri sendiri. (Tambunan, 1992:16). Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek yang dibutuhkan untuk mengembangkan diri dan pencapaian kestabilan mental yang sehat guna mengatasi permasalahan dalam dirinya. Dan salah satu aspek penting yang bias mendorong rasa percaya diri adalah dengan bersyukur. Dengan bersyukur, seorang remaja akan memiliki kekuatan jiwa dan dalam menghadapi kesukaran dan kekecewaan hidup tidak akan memukul jiwanya, tidak akan membuatnya pesimis, rendah diri, mudah putus asa dalam hidupnya. Ia akan menghadapinya dengan tenang dan selalu ingat kepada Allah SWT, menerima kekecewaan dan kesukaran hidup dengan sabar. Menurutnya kesukaran yang dialaminya merupakan bagian dari ujian dan cobaan. Serta yakin bahwa Allah SWT memberi cobaan sesuai dengan batas kemampuan manusia yang akan memberikan makna pada setiap sikap dan perilaku individu sehingga akan tetap hidup dengan penuh keyakinan dan ketenangan pada dirinya sendiri (Gymnastiar, 2003:33) . Menurut sebuah penelitian Zainrrofikoh dan Hadjam yang dilakukan pada Mahasiswa anggota KAMMI di UGM menyimpulkan bahwa individu yang merasakan kebermaknaan hidup, dapat menumbuhkan semangat untuk menghadapi tantangan hidup, mampu menerima diri dan mensyukurinya sehingga tidak mempermasalahkan penampilan fisik dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, sebaliknya individu akan menerima kondisi itu sebagai suatu takdir dan menerima dengan sikap sabar, sehingga individu tidak merasa cemas, tetap optimis dan percaya diri. Agama juga mengajarkan hakikat kemanusiaan dimana manusia harus menyadari bahwa Allah SWT memberi yang ada dalam cirinya yang meliputi fungsi-fungsi fisiologis maupun psikisnya yang menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi. Sesungguhnya banyak sekali nikmat Allah SWT yang diberikan kepada manusia diantaranya adalah nikmat kesehatan, kebahagiaan, keluarga dan lain sebagainya. Namun nikmat yang sejati ialah kebahagiaan hidup di akhirat. Berdasarkan sifat manusia nikmat dapat dikategorikan menjadi dua macam yaitu nikmat yang bersifat fitri (asasi) yang dibawa manusia sejak lahir. Dan yang kedua adalah nikmat yang mendatang yang diterima manusia dan dirasakannya setiap waktu yaitu segala kenikmatan, kesehatan, kebahagiaan dan lain-lainnya yang diterima oleh manusia dalam perjalanan hidupnya. Allah SWT berfirman “Dan Tuhan melahirkan kamu dari perut ibumu tanpa mengetahui sesuatu apapun dan (kemudian) diberi-Nya kamu pendengaran, penglihatan dan hati, supaya kamu bersyukur” (An-Nahl : 78). Berdasarkan ayat diatas betapa banyak dan besar nikmat maupun rahmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Untuk pelajar mensyukuri nikmat Allah SWT, perlu dikaji apa yang telah melekat di tubuh kita. Tak ada alat yang diciptakan manusia mampu menandingi alat-alat yang diciptakan Allah SWT berupa organ tubuh manusia. Maka bahwa sesungguhnya kenikmatan asasi itu luar biasa. Kebanyakan sifat manusia baru menyadari nilai nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya, ia tidak pernah merasa bahwa organ tubuh itu sangat mahal, baru jika ia membutuhkan, maka sesuatu menjadi sangat berharga. Misalkan saja yaitu seseorang mengalami kecelakaan dan salah satu matanya harus dioperasi, maka barulah merasa bahwa satu bola mata sangat besar artinya dalam hidup ini, dan merasakan betapa nikmatnya mempunyai dua belah mata. Oleh sebab itu setiap nikmat yang diperoleh harus disyukuri. Karena orang yang pandai bersyukur jiwanya semakin bersih, dia akan memiliki kesabaran, tidak ada rasa penyesalan, putus asa atas ujian yang ditimpakan-Nya. Dan dia akan bertambah dekat kepada Allah SWT, tidak memiliki sikap sombong meskipun bergelimangan harta, dan semakin sadar bahwa nikmat itu adalah karunia Illahi yang harus dipergunakan untuk kebaikan terhadap sesama umat manusia. Suroto (1998:54) mengemukakan bahwa dengan mensyukuri apa yang diterima dapat merasa bahagia dan menjadi yakin bahwa kebahagiaan datang dari sikap batin diri sendiri, dari sikap hati dan perasaan diri sendiri bukan dari luar. Jika sikap positif dilaksanakan, maka peluang untuk merasa bahagia akan mudah diperoleh. Seperti yang difirmankan Allah SWT “Barang siapa yang bersyukur maka hal itu adalah untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa yang ingkar, sesungguhnya Tuhan itu Maha Kaya dan Mulia”(An-Nahl :40). Dalam keimanan tercakup kepercayaan kepada sifat cinta kasih dan kepemurahan dari Allah SWT, serta keyakinan akan adanya takdir. Dengan kepercayaan ini seseorang bisa menerima dengan bersyukur setiap realitas yang tidak bisa dirubah. Sikap realita adalah kesediaan seseorang untuk bersyukur, berserah diri pada takdir atau sikap ikhlas menerima keadaan buruk sebagai keputusan Allah SWT. Sikap ini dapat menumbuhkan rasa percaya diri bahwa segala keputusan-Nya mempunyai maksud yang baik dan pasti ada hikmahnya. Berdasarkan permasalahan diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul HUBUNGAN ANTARA RASA SYUKUR DENGAN KEPERCAYAAN DIRI.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang sudah dikemukakan diatas, maka permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara rasa syukur dengan kepercayaan diri.
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara rasa syukur dengan kepercayaan diri.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi bagi
pengembangan teori dibidang psikologi sosial dan psikologi agama.
2. Manfaat praktis Diharapkan dari penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk menambah wawasan tentang rasa syukur dengan kepercayaan diri.

HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN KELOMPOK SEBAYA DENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA DI SMUN I PROBOLINGGO

BAB I PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa transisi dari kanak-kanak ke dewasa. “Remaja”, kata tersebut mengandung banyak kesan. Disatu sisi ada kesan bahwa remaja adalah kelompok orang-orang yang sering menyusahkan orang tua, dan ada yang menganggap bahwa remaja merupakan sebuah potensi manusia yang perlu dimanfaatkan. Akan tetapi remaja sendiri mengungkapkan kesan tentang dirinya bahwa orang-orang diluar dirinya (dewasa) bersikap tak acuh, tidak peduli pada kelompoknya dan mereka mungkin akan mengeluh, bahwa dirinya hanya dijadikan obyek pembicaraan, tanpa mereka sendiri ikut berbicara (Mappiare, 1982 : 11). Oleh karena itu remaja seringkali menunjukkan prilaku yang emosional, mudah tersinggung, marah, putus asa, terpengaruh dan sebagainya (Soesilowindradini, tt : 146). Erickson (dalam Haditono, 1994 : 231) mengatakan bahwa pada masa remaja, seseorang akan berusaha melepaskan diri dari mileu orang tua untuk menemukan jati dirinya. Proses ini disebut proses mencari identitas ego. Jalan untuk mencari identitas ego pada remaja turut menentukan kualitas pribadinya maka akan menjadi remaja yang sehat, mandiri dan mampu bersosialisasi dengan baik. Remaja dalam menemukan jati diri, menentukan kualitas pribadinya yaitu bagaimana remaja dapat mengeksplorasi diri dalam berinteraksi denganteman sebaya dan bagaimana remaja mampu mengatur aktivitasnya (Haditono, 1992 : 237). Banyak cara untuk mengangkat diri sendiri sebagai individu adalah dengan menggunakan simbol status dalam bentuk materi seperti mobil, pakaian, tatanan rambut dan pemilikan barang-barang lain yang mudah terlihat. Para remaja harus mengikuti standart budaya kawula muda bila ingin diterima oleh kelompok sebayanya dengan mempelajari standart prilaku dan nilai-nilai budaya (Hurlock, 1992 : 206). Dengan cara ini, remaja menarik perhatian pada diri sendiri dan supaya dipandang sebagai individu, sementara pada saat yang sama remaja mempertahankan identitas dirinya terhadap kelompok sebaya. Di sekolah, remaja menghabiskan waktu bersama-sama 6 jam sehari dan sekolah menyediakan berbagai aktivitas ekstrakurikuler bagi kegiatan berkelompok dengan teman sebaya. Remaja berkelompok berdasarkan minat dan kemampuan yang sama dimana kelompok yang menjadi acuan atau sasaran tersebut mempunyai arti penting baginya. Jadi, remaja akan mengembangkan kreatifitasnya bersama teman-teman yang dibutuhkan dan dianggapnya penting baginya (Rakhmat, 1999 : 100). Salah satu tugas perkembangan remaja (Hurlock, 1992 : 213) adalah memupuk kemampuan bersosialisasi dengan memperluas hubungan antar pribadi dan berinteraksi secara lebih dewasa dengan teman sebaya. Pentingnya pencapaian dari tugas perkembangan remaja adalah remaja akan merasa bahagia dimana aspirasi remaja terpenuhi, demikian pula dengan harapan masyarakat. Remaja dalam mengembangkan kemampuan sosialnya cenderung bergabung dengan kelompok dan banyak berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas kelompok. Kemampuan remaja untuk dapat masuk dan bergabung serta beraktivitas bersama dalam kelompok dapat dilihat dari sejauh mana remaja dapat menyesuaikan diri terhadap pendapat kelompok yang dianutnya. Kondisi ini akan memberikan peluang terjadinya gambaran yang dimiliki tentang diri (konsep diri) menjadi baik. Remaja dalam pergaulan sudah tentu mempunyai perasaan ingin diterima dalam kelompok teman sebayanya (Soesilowindradini, tt : 202). Ia akan berusaha menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut. Dengan diterimanya ia dalam kelompok teman sebayanya, maka akan membuat remaja tersebut merasa bahwa dirinya dihargai dan dihormati oleh teman-temannya, sehingga akan menimbulkan rasa senang, gembira, puas dan memberikan rasa percaya diri yang besar (Mappiare, 1982 : 172). Menurut penelitian yang dilakukan Hendriati (Psikodinamik, 2002) tentang hubungan antara perkembangan remaja dengan konsep diri dan penyesuaian diri remaja berdasarkan pendekatan ekologi. Pendekatan ekologi yaitu mencakup konteks keluarga dan sekolah yang diwakili oleh orang tua dan guru sebagai penunjang peranan dalam pencapaian dari tugas perkembangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan orang tua dan guru dapat dijadikan sebagai lingkungan yang dapat membantu pengembangan konsep diri dan penyesuaian diri remaja. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara perkembangan remaja menurut pendekatan ekologi. Adanya penerimaan teman sebaya dalam kelompok dapat ditujukan dengan indeks keberhasilan yang digunakan remaja untuk berperan dalam kelompok sosial dan menunjukkan derajat rasa suka anggota kelompok yang lain untuk bekerja ataupun bermain dengannya. Remaja akan mengukur keberhasilan atau kegagalannya berdasarkan jumlah sahabat yang dimilikinya dan berdasarkan jaminan statusnya dalam kelompok (Hurlock, 1997 : 297). Sketsa (dalam Bestari, 2001), menceritakan bahwa remaja mengisi waktu luangnya dengan beraktivitas. Misalnya belajar bermain musik. Adapun manfaat belajar disini adalah untuk melepaskan kemampuannya dalam rangka menentukan identitas dirinya dan membandingkan kemampuannya dengan teman sebaya. Manfaat yang lain yaitu remaja dapat bergaul dengan teman sebaya untuk menghayati masa mudanya. Remaja dalam proses belajar, pasti mendapatkan pengalaman yang berupa kegagalan atau kesuksesan. Kesuksesan yang diperoleh menunjukkan bahwa remaja tersebut merasa diterima dalam kelompok sebayanya. Sedangkan kegagalan mengakibatkan remaja merasa tidak berharga sehingga mereka merasa tidak diterima. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan yang menjadi salah satu penyebab rendahnya konsep diri dan harga diri (Hetty, 2002 : 4). Kegagalan dalam memperoleh identitas diri akan menyebabkan beberapa gangguan prilaku patologis, seperti : impulsif, gelisah, mudah terpengaruh (Rakhmat, 1999 : 39), perasaan tidak mampu, rendah diri, ragu, penyesuaian diri yang buruk, mudah putus asa, kurang orientasi, motif berprestasi rendah. Pada dasarnya remaja ingin memiliki kemampuan mental atau kemampuan-kemampuan dalam hal lain yang unggul yang menyebabkan dirinya selalu diterima (Haditono, 1991 : 201). Dilingkup sekolah, penerimaan teman sebaya bisa diperoleh karena prestasi belajar yang dimiliki, bisa juga remaja diterima didalam kegiatan ekstrakurikuler misalnya pemain band, penyanyi, Tilawatil Qur`an hingga menjadi atlit olah raga. Dimana semua kegiatan disini ditekuni berdasarkan minat dan hobby masing-masing individu untuk mengembangkan kreatifitasnya. Ada juga penerimaan dari teman sebaya itu atas dasar penampilan fisik yang dimiliki. Mereka masuk dalam kelompok sebaya yang memiliki minat sama. Disinilah remaja melakukan interaksi dan belajar menekuni bidang yang sama. Tetapi ada juga remaja yang selalu mengikuti perbuatan apa saja yang dilakukan oleh kelompok sebayanya hanya karena ingin diterima dalam kelompok tersebut. Seperti yang diberitakan oleh Sugandha dimana polisi menangkap sekelompok remaja yang masih duduk di SMU tengah menikmati minuman keras dan sabu-sabu. Hal ini mereka lakukan semata-mata supaya diterima oleh kelompok sebayanya dan untuk mendapatkan simbol status bahwa mereka sudah bisa dianggap dewasa (dalam SERGAP, 23 Desember 2004). Perilaku yang demikian dapat menghancurkan moralitas remaja selanjutnya dan membawa pengaruh buruk terhadap perkembangan selanjutnya. Widi (dalam Aneka, 2004) menceritakan tentang penerimaan oleh teman-teman dalam kelompok penghuni terakhir. Disini, anggota dari kelompok penghuni tersebut harus bersikap saling menghormati dan menghargai, tetapi itu tergantung dari bagaimana individu bersikap. Mereka yang lebih banyak disukai dan diterima oleh teman-temannya maupun masyarakat yang mendukungnya melalui sms, akan membuat individu tersebut merasa dirinya berharga, bangga pada diri sendiri dan lebih percaya diri sehingga ia akan lebih berjuang dalam mengembangkan kreatifitasnya. Percaya diri merupakan salah satu faktor pendukung terbentuknya konsep diri (Maltz, dalam Rakhmat, 1999: 101). Konsep diri tumbuh dan berkembang dalam interaksi sosial maka perubahan dan modifikasinya pun terjadi dalam proses interaksi sosial yang berlangsung sepanjang hidup seseorang. Penerimaan kelompok sebaya sangat mempengaruhi sikap-sikap dan perilaku remaja. Penerimaan kelompok sebaya itu sendiri merupakan persepsi tentang diterima atau dipilihnya individu tersebut menjadi anggota dalam suatu kelompok tertentu (Hurlock, 1997 :293). Seorang remaja yang diterima disekolahnya baik karena faktor fisik yang baik, kemampuan pikir yang cerdas maupun sikap yang ramah dan rendah hati, akan merasa bahagia dan memiliki konsep diri yang positif (Mappiare, 1982 : 92). Hal ini didukung oleh Burn (1993 : 42) bahwa proses belajar dan pengalaman terutama yang berhubungan dengan dirinya baik yang berupa kegagalan dan kesuksesan dapat membentuk konsep diri. Remaja yang mengalami kesuksesan akan menampilkan konsep diri yang positif. Sedangkan remaja yang mengalami kegagalan akan membentuk konsep diri yang negatif. Berdasarkan penelitian Azizah (2003) yang menyatakan bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan antara penerimaan kelompok sebaya terhadap penyesuaian diri remaja. Hal ini dapat dibuktikan dari analisis random sampling yaitu F = 107,852 dan P = 0,000 yang artinya bahwa dengan diterimanya remaja dalam kelompok sebaya maka penyesuaian diri remaja tinggi. Sebaliknya dengan ditolaknya remaja dalam kelompok sebaya maka penyesuaian diri remaja rendah. Konsep diri positif dapat diketahui dengan adanya evaluasi diri dan penerimaan diri yang positif disertai adanya self esteem yang tinggi. Sebaliknya konsep diri negatif dapat diketahui dengan adanya evaluasi diri yang negatif, rasa benci terhadap diri sendiri, inferior, kurang bisa menerima diri sendiri dan merasa kurang berharga (Burn, 1993 : 72). Hal ini menimbulkan perubahan sikap, perilaku dan penilaian diri yang berpengaruh pada pembentukan konsep diri. Adapun pengertian dari konsep diri adalah pandangan seseorang mengenai dirinya meliputi kondisi fisik, sosial dan psikologiknya (Brooks, dalam Rakhmat; 1996 : 99). Hasil penelitian Khusna (2002) yang menyatakan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara pemenuhan kebutuhan dengan konsep diri remaja. Hal ini telah dibuktikan melalui hasil analisis random sampling yaitu r = 0,796 dan p = 0,000, yang berarti bahwa semakin terpenuhinya kebutuhan maka semakin realistis konsep diri yang dimiliki. Peran konsep diri dalam membentuk kepribadian dibuktikan dalam banyak penelitian diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Robert Rosenthal dan Leonard (1968) terhadap anak sekolah tingkat dasar. Guru pengajarnya diberi sejumlah nama yang memungkinkan memiliki prestasi (sebenarnya dipilih secara random dan tanpa dasar apapun) dan ternyata anak-anak yang namanya berada dalam daftar tersebut menunjukkan prestasi akademik yang lebih menonjol dari pada anak-anak lainnya. Asumsinya adalah karena anak-anak tersebut diperlakukan secara lebih apresiatif baik verbal ataupun non verbal, dan guru lebih menolong mereka dan memperbaiki konsep diri mereka (Rakhmat, 1999 : 91-92). Hasil penelitian Ana (2002) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan antara konsep diri dengan pengungkapan diri (self disclosure) pada remaja di SMU Muhammadiyah 3 Malang. Hal ini terbukti dari hasil yang diperoleh yaitu rxy = 0,621 dan p = 0,000. maka ada hubungan yang positif antara dua variabel tersebut yaitu semakin positif konsep diri seseorang maka semakin tinggi pula pengungkapan dirinya. Dengan kata lain remaja dapat mengembangkan pemahaman dan penilaian terhadap dirinya. Berdasarkan dokumentasi Guru BK di SMUN I Probolinggo, diperoleh rincian data tentang konsultasi siswa-siswa yang bermasalah atau kasus yang dihadapi siswa selama periode tahun 2003-2004 sebanyak 50 siswa. Adapun rincian kasus ada pada tabel berikut :
Tabel 1
Rincian Kasus yang dihadapi Siswa-siswi SMUN I Probolinggo
Pada Tahun 2003-2004
No Jenis Kasus Alasan Jumlah Kasus
1. Minder atau 19 siswa
Status ekonomi rendah
rendah diri (6 pria, 13 wanita)
2. Kecewa dan sakit Diputus pacar dan 10 siswa
hati diselingkuhi (4 pria, 6 wanita)
3. Ikutan trend anak gaul 9 siswa
Merokok
supaya dianggap dewasa (6 pria, 3 wanita)
4. Minum-minuman Ingin diterima sebagai 8 siswa
keras anggota geng yang diminati (6 pria, 2 wanita)
5. Narkoba (obat-
Ingin terkenal atau populer 2 siswa pria
obatan terlarang)
6. Pergaulan bebas Merayakan hari valentine 2 siswa pria- wanita
Total Jumlah 50 siswa
Atas dasar dokumentasi inilah, peneliti tertarik untuk meneliti siswa-siswi SMUN I Probolinggo dimana sekolah ini merupakan sekolah favorit di kota Probolinggo karena mereka yang masuk sekolah tersebut berdasarkan prestasi yang dimiliki, bukan karena status sosial, status ekonomi maupun latar belakang keluarga. Akan tetapi dalam proses penyesuaian diri ketika siswa-siswi itu bergaul dan berinteraksi satu sama lain, timbul masalah yaitu ketidakcocokan yang disebabkan oleh perbedaan status dan latar belakang keluarga. Siswa atau remaja yang status ekonominya rendah merasa tidak percaya diri, ragu dan minder untuk berteman dengan teman-teman yang status ekonominya tinggi. Sikap demikian (tidak percaya diri, ragu dan minder) merupakan bentuk dari konsep diri yang negatif (Hurlock, 1974 : 33). Mereka merasa tidak diterima oleh kelompok sebaya yang dianggap lebih tinggi status ekonominya. Kemudian remaja-remaja ini berusaha mencari perhatian teman-temannya dengan melakukan tindakan-tindakan negatif diantaranya minum-minuman keras dan menggunakan obat-obatan supaya bisa diterima dikalangan sebayanya. Latar belakang yang baik, dipandang dari sudut status sosial ekonomi keluarga, dapat mendukung stabilitas penerimaan sosial ekonomi keluarga karena dapat membantu remaja mempelajari pola perilaku dan nilai yang akan selalu mendapat persetujuan dan dukungan sosial ketika mereka beranjak dewasa (Hurlock, 1997 : 299). Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa remaja yang diterima dikalangan teman sebaya memiliki peran penting bagi remaja itu sendiri. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara penerimaan kelompok sebaya dengan konsep diri pada remaja.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan diungkap adalah apakah ada hubungan antara penerimaan kelompok sebaya dengan konsep diri pada remaja?
C. Tujuan
Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara penerimaan kelompok sebaya dengan konsep diri pada remaja.
D. Manfaat
1. Manfaat Teoritis Penelitian ini dilakukan untuk memberikan sumbangan bagi perkembangan Ilmu Psikologi khususnya Psikologi Sosial dan Psikologi Perkembangan.
2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi orang tua, guru
maupun remaja dalam pembentukan konsep diri yang positif.
© 2009 - Skripsi Psikologi Indonesia | Design: PUNKER | Pagenav: Psycher89 Top