RSS

HUBUNGAN ANTARA EFEKTIFITAS KOMUNIKASI DENGAN KEPUASAN KERJA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Masalah sumber daya manusia merupakan hal yang tidak dapat diabaikan oleh suatu organisasi perusahaan, karena faktor manusia sangat berperan dalam dan mendukung dalam pencapaian hasil sesuai dengan tujuan perusahaan. Menurut Louise A. Allen (dalam As’ad,2003:103), betapapun sempurnanya rencana-rencana, organisasi dan pengawasan, serta penelitiannya, bila mereka tidak dapat menjalankan tugasnya dengan minat dan gembira maka suatu perusahaan tidak akan mencapai hasil sebanyak yang sebenar-benarnya dapat dicapainya. Organisasi merupakan suatu struktur yang dapat melangsungkan proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Kemampuan struktur organisasi yang melangsungkan prosesnya secara sistem akan dapat menyelesaikan tujuan secara selektif, dalam arti kata masukan (input) yang diproses akan menghasilkan keluaran (output) yang diharapkan sesuai dengan biaya, personil, dan waktu yang direncanakan (Anoraga & Suyati,1995:140-141). Hal pokok yang paling penting disini, organisasi harus mampu memadukan upaya untuk memenuhi kebutuhan individu tanpa harus menyimpang dari upaya pemenuhan kebutuhan organisasi itu sendiri sehingga karyawan merasa puas. Berkaitan dengan masalah kepuasan kerja karyawan, ada beberapa penelitian yang membuktikan adanya banyak faktor yang turut mempengaruhi kepuasan kerja itu sendiri. Dalam penelitian Duffi,dkk (1998:953), membuktikan bahwa kepuasan kerja memiliki hubungan yang negatif dan signifikan dengan perilaku berpindah pekerjaan dan perilaku mencari pekerjaan yang baru. Sedangkan positif afektif berhubungan dengan kepuasan kerja (r =15, p< .05) tetapi tidak ada hubungan dengan masa kerja (r = -.09 .ns). Artinya, karyawan dengan perilaku berpindah pekerjaan yang tinggi akan memiliki positif afektif dan kepuasan kerja yang rendah. Penelitian Djunaidi,dkk (2001:48), membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kecocokan tipe kepribadian dan model lingkungan kerja konvensional dengan kepuasan kerja karyawan administrasi PT.KTSM. Berdasarkan hasil perhitungan koefisien determinasi, kecocokan tipe kepribadian dan model lingkungan kerja mempunyai pengaruh yang sebesar 41.345% terhadap kepuasan kerjanya. Sedangkan sisanya sebesar 58.655% ditentukan oleh faktor-faktor lain. Dari hasil penelitian Winarsunu (1997:3-4) mengenai determinan kepuasan kerja, menurut beberapa temuan yang bisa diungkapkan antara lain bahwa semakin besar keragaman aktivitas yang diaktualisasikan oleh pekerja, maka dia akan menjadi lebih puas dan dia merasa benar-benar menikmati pekerjannya. Hasil penelitian Kluger,dkk (1998:24) membuktikan bahwa terdapat hubungan yang signifikan (p< .001) antara variabel kepribadian (self esteem, generalized self efficacy, locus of control dan neuroticism) dengan hasil kerja (kepuasan kerja dan kepuasan dalam hidup, karakteristik pekerjaan). Penelitian lain yang dilakukan Judge, Bono dan Locke (2001:242), membuktikan bahwa core self evaluation memiliki hubungan yang kuat dan signifikan dengan persepsi tentang karakteristik pekerjaan dan job complexity. Selain itu juga berhubungan dengan kepuasan kerja. Hal penting yang perlu dicatat bahwa job complexity memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan kerja (r = .13, p< .05) yang dijadikan sebagai mediasi untuk karakteristik pekerjaan. Hasil penelitian Yuda (2001:58) membuktikan bahwa rata-rata tingkat kepuasan kerja untuk kelompok guru yang berstatus tetap lebih tinggi daripada kelompok guru yang berstatus honorer. Hasil ini menunjukkan bahwa ternyata variabel status kepegawaian memberikan pengaruh yang signifikan terhadap variabel tingkat kepuasan kerja. Penelitian Zamralita (1998:110) membuktikan bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor demografis (tingkat pendidikan, usia, masa kerja, jenis kelamin, status kepegawaian), namun terdapat perbedaan kepuasan kerja yang signifikan pada dosen tetap antar fakultas. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepuasan kerja dipengaruhi oleh positif afektif, kecocokan tipe kepribadian dan lingkungan kerja konvensional, keragaman dalam aktivitas pekerjaan, karakteristik pekerjaan, dan status kepegawaian. Hasil penelitian Prasetyawati (2003:81) membuktikan bahwa ada hubungan yang positif yang sangat signifikan antara harga diri dengan efektifitas komunikasi interpersonal pada remaja. Dimana semakin tinggi harga diri yang dimiliki oleh remaja maka akan semakin tinggi pula efektifitas komunikasi interpersonal dari remaja tersebut. Salah satu faktor lain yang berpengaruh terhadap kepuasan kerja adalah komunikasi. Adapun komunikasi dalam organisasi adalah pertukaran ide atau konsep untuk tujuan informasi, perintah, dan instruksi pengaruh dan persuasi atau integrasi. Komunikasi ini merupakan suatu alat untuk pengambilan keputusan, memperoleh umpan balik guna pencapain tujuan organisasi. Artinya komunikasi adalah komponen penting yang menggerakkan suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi, akan tercipta interaksi yang harmonis antara para karyawan suatu organisasi, baik dalam hubungan timbal balik vertikal maupun horizontal diantara para karyawan (Anoraga & Suyati,1995:141). Dalam beberapa penelitian dibuktikan bahwa efektifitas komunikasi dapat berpengaruh terhadap beberapa hal, seperti tingkat disiplin kerja karyawan, keterlibatan kerja, dan produktivitas kerja. Penelitian Arif (2004:54) membuktikan bahwa ada pengaruh yang signifikan atau nyata antara efektifitas komunikasi interpersonal dengan tingkat disiplin kerja karyawan. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Darmawan (2002:108) membuktikan bahwa terdapat korelasi yang positif dan sangat signifikan antara komunikasi interpersonal dengan keterlibatan kerja sebasar 0.380. Semakin tinggi tingkat komunikasi interpersonalnya, maka akan semakin tinggi pula keterlibatan kerja. Selain itu juga membuktikan bahwa terdapat hubungan yang positif dan sangat signifikan antara keterlibatan kerja dengan masa kerja dengan angka korelasi sebasar 0.452, menunjukkan bahwa semakin lama masa kerja seseorang maka akan semakin tinggi pula keterlibatan kerjanya. Hasil penelitian dari Cahyono (2003:60) membuktikan bahwa aspek keterbukaan dalam efektifitas komunikasi interpersonal langsung memiliki kualitas yang baik sebesar 40% dibandingkan dengan aspek keterbukaan pada efektifitas komunikasi tidak langsung. Untuk pihak yang berkomunikasi langsung, scenderung mampu saling terbuka dan empati dalam menyampaikan pesan karena adanya kontak sosial dan umpan balik langsung antara individu, sedangkan pihak yang berkomunikasi tidak langsung cenderung mampu melakukan dukungan, memiliki perasaan positif dan kesamaan dalam proses komunikasinya. Penelitian lain dilakukan oleh Yulidya (2001:59-60) membuktikan bahwa ada pengaruh yang sangat signifikan antara attraction dan komunikasi efektif terhadap produktivitas kerja. Semakin tinggi attraction dan komunikasi yang efektif yang dimiliki karyawan maka akan semakin tinggi pula produktivitas kerjanya. Berdasarkan dari beberapa hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan, maka efektifitas komunikasi dan kepuasan kerja merupakan masalah pokok yang perlu mendapatkan perhatian dari setiap perusahaan atau organisasi. Organisasi memerlukan orang-orang yang mampu memberikan hasil kerja yang berkualitas, memiliki motivasi tinggi, memiliki perhatian yang besar pada organisasi, mampu bekerja keras dan memiliki loyalitas. Kewajiban dari seorang pimpinan adalah memberikan motivasi pada setiap karyawan agar dicapai kepuasan kerja. Kepuasan kerja merupakan unsur psikologis yang sangat berarti bagi seorang karyawan. Sebab dalam kalimat “kepuasan” terdapat sebuah makna yang mengandung unsur motif, kemudian beralih menjadi motivasi perilaku dan pada akhirnya berwujud pada tindakan. Kepuasan kerja merupakan aspek yang sangat penting artinya bagi sebuah perusahaan, karena salah satu gejala kurang stabilnya organisasi adalah rendahnya kepuasan kerja yang dirasakan karyawan. Contoh yang sering terjadi dalam suatu perusahaan adalah terjadinya pemogokan kerja, indisipliner karyawan, perlambanan kerja atau terjadinya penurunan produktivitas kerja dan terjadinya pengunduran diri karyawan baik secara massal maupun individual. Disisi lain, memang setiap individu memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Semakin banyak aspek pekerjaan yang sesuai dengan keinginan individu, maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan yang dirasakan (As’ad,2003:104). Kepuasan kerja karyawan dapat dicapai melalui komunikasi dalam perusahaan. Dengan adanya komunikasi, konflik yang terjadi dalam perusahaan dapat diubah menjadi motivasi untuk bekerja sama secara kreatif, dan berpartisipasi dalam memecahkan masalah yang dihadapi perusahaan. Memberikan kesempatan pada karyawan agar dapat memberikan saran, dan ide, dapat meningkatkan prestise organisasi juga kepuasan bagi karyawan. Tanpa komunikasi yang baik, karyawan akan merasa tidak dihiraukan, instruksi tidak dipahami dan informasi penting tidak tersampaikan. Lebih lanjut lagi, karyawan akan bekerja tanpa ada arahan, tidak termotivasi karena tidak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana bekerja yang baik, tidak ada kesempatan untuk mengaktualisasikan diri karena atasan tidak memberikan kesempatan untuk menampung ide dan pemikirannya, tidak dapat mengambil keputusan yang tepat karena tidak mendapatkan informasi penting yang seharusnya diperoleh. Jika keadaan yang demikian terus menerus berjalan akan membawa suatu kondisi yang tidak sehat bagi kepuasan dan kerja karyawan yang kemudian berpengaruh pada pencapain tujuan perusahaan. Berdasarkan dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara efektifitas komunikasi dengan kepuasan kerja.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara efektifitas komunikasi dengan kepuasan kerja?
C. Tujuan penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan efektifitas komunikasi dengan kepuasan kerja.
D. Manfaat penelitian
1. Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan ilmiah dan menambah ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu psikologi khususnya bidang psikologi industri dan organisasi.
2. Secara praktis
Apabila penelitian ini terbukti, maka dapat bermanfaat untuk membantu perusahaan dalam meningkatkan kepuasan kerja karyawannya dengan menerapkan komunikasi yang efektif di dalam perusahaan.

Tidak ada komentar:

© 2009 - Skripsi Psikologi Indonesia | Design: PUNKER | Pagenav: Psycher89 Top