RSS

HUBUNGAN ANTARA FREKUENSI MENONTON TAYANGAN BERITA KRIMINAL DI TELEVISI DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa agresivitas manusia tidak dapat dilenyapkan dari muka bumi ini, karena agresivitas merupakan bagian dari sifat yang paling hakiki dari manusia itu sendiri. Dalam sepanjang rentang kehidupan, dapat dipastikan bahwa manusia tidak dapat lepas dari segala bentuk perilaku agresif. Perilaku agresif itu sendiri juga dapat terjadi dimana saja, dapat berupa perilaku agresif verbal (mencaci maki, mengolok-olok) maupun perilaku agresif fisik (memukul, meninju), dan dapat dilakukan oleh siapapun juga baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Perilaku agresif dapat muncul dalam berbagai cara dan dapat dilihat dari tindakan yang berbeda. Meningkatnya kecenderungan ke arah agresi bisa saja karena semakin banyak orang yang merasa berhak untuk membalas dendam kepada orang lain yang mereka anggapp telah berbuat salah kepada mereka. Akhir-akhir ini sering kita dengar tentang adanya perilaku agresif anak yang semakin menjadi permasalahan dan menimbulkan perasaan cemas bagi masyarakat. Mulai dari munculnya perilaku agresif yang paling sederhana (berkata atau bertindak kasar, membolos atau melanggar aturan sekolah, perkelahian antar teman sebaya, dan lain-lain) sampai dengan perilaku agresif yang kompleks (pencurian, perusakan fasilitas umum, melukai teman, bahkan sampai membunuh). Agresi menurut Berkowitz (Feldman, 1985:294) didefinisikan sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik maupun mental. Proses terbentuknya tingkah laku agresif sama dengan proses terbentuknya tingkah laku yang lain yaitu melalui proses yang melibatkan dua kekuatan dasar yaitu faktor alamiah (bawaan) dan faktor lingkungan (sosial budaya). Kedua kekuatan dasar tersebut baik sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama menentukan bentuk, corak, atau pola tingkah laku individu dan mempengaruhi kecenderungan individu dalam bertingkah laku. Teori belajar observasional (observational learning theory) atau modelling yang dijadikan alternatif teoritis bagi teori-teori belajar tradisional, dikembangkan oleh Albert Bandura dan kolega-koleganya. Asumsi dasar dari teori dan penelitian belajar observasional adalah sebagian besar tingkah laku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan (observasi) atas tingkah laku yang ditampilkan oleh individu-individu lain yang menjadi model. Penelitian belajar observasional yang paling dikenal dari Bandura adalah penelitiannya tentang pembentukan agresi pada anak-anak. Dari penemuan ini, Bandura dan kolega-koleganya menyimpulkan bahwa agresi bisa dipelajari dan terbentuk pada individu-individu hanya dengan meniru atau mencontoh agresi yang dilakukan oleh individu lain yang diamatinya, bahkan meskipun hanya sepintas dan tanpa perkuatan (Koeswara, 1988:41-43). Sebuah survey yang dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2-17 tahun tentang seberapa jauh kekerasan di televisi mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan populasi remaja yaitu oleh Tim FISIP UNAIR dan Bappenkar (Badan Pencegahan Penanggulangan Kenakalan Anak dan Remaja) JATIM mempergunakan 446 responden remaja siswa SLTA (Utami, 1997:39), melakukan penelitian tentang “Penyebab Kenakalan Remaja”. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa faktor yaitu kurangnya perhatian orang tua 81%, pengaruh pergaulan 90%, pengaruh lingkungan sosial 79%, pengaruh media massa 63%, dan pengaruh budaya asing 59%. Dari dua penelitian yang telah diuraikan di atas dapat dilihat bahwa media massa mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap proses pembentukan tingkah laku, termasuk tingkah laku agresi. Televisi merupakan salah satu media massa yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Televisi diharapkan mampu menjalankan peran yaitu menyampaikan contoh perilaku dan nilai-nilai positif bagi anak melalui tayangan-tayangan yang disajikan. Dalam kenyataan yang tampak sekarang, televisi bisa bermuka dua dengan menyampaikan nilai positif dan negatif. Banyak sekali tayangan program-program di televisi yang memberikan dan menjadi contoh buruk bagi anak-anak, misalnya tentang tayangan kekerasan. Dede Mulkan Sasmita (Mulyana & Ibrahim, 1997:214) menyatakan bahwa terdapat sebuah temuan yang cukup mengejutkan dimunculkan melalui hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) mengenai program televisi. Menurut temuan itu, persentase acara televisi yang secara khusus ditujukan untuk anak relatif kecil, hanya sekitar 2,7 - 4,5% dari total tayangan yang ada. Pada umumnya persentase yang sedikit ini pun materinya sangat mengkhawatirkan bagi perkembangan anak-anak. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dwinandasarie (1997) menunjukkan bahwa perilaku agresif anak sesudah menonton film kekerasan cenderung lebih tinggi dari pada sebelum menonton terutama pada anak yang sebelum menonton sudah tampak agresif. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Hariyati (1998) yang mengambil sampel remaja pada siswa SMU juga mendapatkan suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat terpaan tayangan kekerasan akan semakin tinggi pula tingkat agresivitas remaja. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa antara tayangan kekerasan dengan tindak agresivitas remaja mempunyai hubungan yang erat dan saling terkait. Dalam kenyataan yang tampak sekarang, tidak hanya program/tayangan yang diperuntukkan untuk konsumen dewasa saja yang mengandung unsur kekerasan dan memunculkan kecenderungan untuk bertingkah laku agresif bagi anak yang mengkonsumsi tayangan tersebut. Tayangan film kartun kesayangan anak-anak pun biasanya terselip adegan yang bisa membuat anak melakukan proses pembelajaran berperilaku agresif. Penelitian oleh Agustin (2003) tentang film kartun “Crayon Sinchan” mendapatkan gambaran tentang agresivitas anak yang suka menonton tayangan “Crayon Sinchan” bahwa anak yang suka menonton tayangan “Crayon Sinchan” cenderung bertingkah laku agresif. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan Mulyanto (2003) tentang pengaruh menonton tayangan film kartun “Dragon Ball” terhadap kecenderungan anak untuk bertingkah laku agresif. Dari penelitian tersebut didapatkan suatu kesimpulan yang mendukung pula bahwa anak yang menonton tayangan film kartun “Dragon Ball” cenderung mempunyai tingkat agresivitas tinggi dibandingkan dengan yang tidak menonton tayangan film kartun “Dragon Ball”. Bagong Suyanto (Cahyana & Suyanto, 1996:6) mengungkapkan bahwa penelitian lain yang dilakukan oleh Carlson-Peige dan Lesley menemukan bahwa penayangan film seri Power Ranger di televisi menyebabkan anak-anak menjadi agresif. Anak-anak menjadi sering terlibat baku hantam dengan sesamanya, bahkan hingga sampai menyebabkan korban tewas. Kekerasan yang ditayangkan di televisi tidak hanya muncul dalam fim kartun, film lepas, serial, dan sinetron. Adegan kekerasan juga tampak pada hampir semua tayangan berita, khususnya tayangan berita krimunal. Setiap saluran televisi dipastikan memiliki program tayangan berita tersebut. Diawali dengan Indosiar dengan “Patroli” dan “Jejak Kasus”; RCTI dengan “Sergap”; SCTV dengan “Buser” dan “Derap Hukum”; TV7 dengan “TKP”; ANTV dengan “Fakta”, “Kriminalitas”, “Sidik”, “Cakrawala” , “Sidik Jari”, dan “Jurnal ANTV Sore”; Metro TV dengan “Bidik”, LATIVI dengan “Brutal”, dan yang terakhir JTV dengan “Borgol” dan “Pojok Perkoro”. Subiakto (dalam harian media cetak “Kompas” 04 Juni 2004) yang diperoleh dalam situsnya menyebutkan bahwa adegan kekerasan, penganiayaan, atau gambar korban yang mengerikan tiap hari bisa disaksikan di hampir seluruh stasiun televisi swasta. Pelakunya beragam. Kadang penjahat, kadang warga masyarakat, dan tak jarang polisi. Peristiwanya sendiri ada yang direkam saat peristiwa terjadi, ada pula yang reka ulang dan adegannya mirip film laga, serta ada yang seperti sandiwara. Tayangan kriminalitas dan kekerasan sudah menjadi menu harian televisi. Tayangan itu hadir di tengah keluarga. Masuk ruang tamu, bahkan kamar tidur. Penayangannya pun tak lagi mempedulikan waktu. Ada yang malam, sore, atau siang hari, seakan-akan publik haus berita kriminal dan kekerasan. Anak-anak pun seakan layak belajar dan mengenal berbagai jenis kekerasan dan kriminal. Demikian juga, Nina M. Armando (dalam Majalah Ummi “Identitas Wanita Islami: No:2/XVI/ Juni-Juli 2004:48-49) berpendapat bahwa tayangan kriminal di televisi dinilai terlalu vulgar untuk dikonsumsi penontonnya, bahkan ternyata para polisipun juga merasa gerah dengan adanya program-program kriminal di berbagai stasiun televisi swasta yang semakin berkembang dan banyak jumlahnya. Mengacu pada teori belajar observasional (observational learning theory) yang disampaikan oleh Bandura dengan penelitian tentang pembentukan agresi pada anak-anak yang menyimpulkan bahwa agresi bisa dipelajari dan terbentuk pada individu-individu hanya dengan meniru atau mencontoh agresi yang dilakukan oleh individu lain yang diamatinya, bahkan meskipun hanya sepintas dan tanpa perkuatan. Berbekal dari teori itulah dikhawatirkan bahwa tayangan kriminal akan berpengaruh terhadap proses terbentuknya perilaku agresif pada anak. Bagi anak-anak praremaja (kanak-kanak akhir), televisi dianggap sebagai laporan tentang dunia seutuhnya. Anak-anak belum mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak. Kalau televisi banyak mengeksploitasi tayangan berita kriminal yang didalamnya banyak terdapat aksi dan adegan kekerasan dalam siarannya, dikhawatirkan anak-anak mempersepsi bahwa kekerasan merupakan penyelesaian yang paling gampang atas banyak permasalahan. Akibatnya anak tumbuh dalam sosialisasi yang akrab dengan munculnya perilaku agresif. Masih mengacu pada teori belajar sosial dari Bandura bahwa segala bentuk perilaku termasuk perilaku agresif didapatkan dengan melalui pengamatan (observasi) dan proses imitasi karena anak sendiri merupakan imitator ulung yang rentan terhadap model-model yang mereka lihat setiap hari dan setiap kesempatan. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa perilaku agresif dapat ditiru melalui adegan kekerasan yang ditayangkan dalam tayangan berita kriminal di televisi, terutama pada masa kanak-kanak (praremaja) yang perkembangan sikap, pola pikir, perilaku, dan emosi masih sangat labil sehingga dalam berperilaku masih didominasi sifat meniru. Anak-anak belum mengerti tentang pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan dalam program tayangan berita kriminal. Mereka mempunyai kecenderungan dalam meniru sesuatu lebih mengandalkan emosi dibandingkan rasio, dan mereka tidak berpikir akibat baik buruknya tentang peniruan yang dilakukan terutama dalam hubungannya dengan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Berangkat dari fenomena-fenomena yang terjadi inilah peneliti berusaha untuk meneliti tentang “Hubungan Antara Frekuensi Menonton Tayangan Berita Kriminal Di Televisi Dengan Perilaku Agresif Pada Anak”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka rumusan masalah yang dapat diperoleh adalah “ Apakah terdapat hubungan antara frekuensi menonton tayangan berita kriminal di televisi terhadap perilaku agresif pada anak?”.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara frekuensi menonton tayangan berita kriminal di televisi terhadap perilaku agresif pada anak.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pada disiplin ilmu Psikologi terutama Psikologi Sosial.
2. Manfaat Praktis
a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan kepada konsumen televisi terutama mengenai jenis acara yang ditonton serta dampaknya terhadap proses terbentuknya perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
b. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan dan informasi kepada orang tua tentang sisi positif dan negatif program acara dalam televisi yang dikonsumsi oleh putra-putrinya.

Tidak ada komentar:

© 2009 - Skripsi Psikologi Indonesia | Design: PUNKER | Pagenav: Psycher89 Top