RSS

HUBUNGAN ANTARA KELELAHAN KERJA DENGAN STRESS KERJA PADA KARYAWAN KARTIKA SARI MOTOR MALANG (AUTHORIZED TOYOTA DEALER)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada perkembangan industri yang cukup pesat sekarang ini, serta perkembangan teknologi yang meningkat dan kompleks, manusia yang selalu berkembang, manusia senantiasa mempunyai kedudukan yang semakin penting. Menyadari betapa pentingnya aspek manusia didalam perkembangan industri khususnya dalam organisasi kerja, maka dalam usaha pencapaian tujuan organisasi sangat penting untuk memahami dan mengetahui masalah-masalah manusia sebagai tenaga kerja atau karyawan. Berhasil atau tidaknya usaha mempertinggi produk serta effisiensi banyak bergantung pada manusia yang melakukan pekerjaan, atau dapat dikatakan banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan, diantara faktor-faktor tersebut yang cukup berpengaruh adalah faktor manusia atau tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan sumber daya yang sangat penting dan menjadi penentu bagi keberhasilan perusahaan, karena prestasi sebuah perusahaan tidak bisa terlepas dari prestasi serta peran tenaga kerja yang terlibat didalamnya. Anggapan bahwa modal dan teknologi adalah satu-satunya alat untuk meningkatkan produktivitas sudah mulai berkurang, produktivitas tenaga kerja merupakan indikator yang paling peka dalam proses ekonomisasi, dan merupakan tolak ukur utama bagi kemajuan ekonomis yang dicapai oleh karena itu tenaga kerja atau karyawan harus diperhatikan keberadaannya agar dapat melakukan pekerjaan sesuai dengan tanggung jawabnya. Pengembangan Sumber Daya Manusia di dalam suatu perusahaan merupakan satu topik yang sangat penting dalam rangka Manajemen Sumber Daya Manusia. Tantangan yang dihadapi perusahaan, seperti perubahan lingkungan bisnis dan lingkungan kerja, mendorong perusahaan tersebut untuk melakukan pengembangan Sumber Daya Manusia nya secara proaktif, sehingga tidak terjadi keusangan kemampuan pegawai dan juga untuk meningkatkan produktivitas. Dalam dunia industri salah satu aspek yang berdampak pada produktivitas perusahaan adalah stres. Stres merupakan suatu situasi yang mungkin dialami manusia pada umumnya dan karyawan pada khususnya. Stres menjadi masalah yang penting karena situasi tersebut dapat mempengaruhi kepuasaan kerja dan produktivitas. Menurut Hariandja (2002:30) stres adalah situasi ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang ketika sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan - hambatan serta adanya kesempatan yang sangat penting, yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang. Stres dapat mempengaruhi keadaan fisik individu, sehingga membuat individu tidak nyaman dalam bekerja. Penelitian yang dilakukan oleh Andhika.P.Dkk. (2004) tentang Efektivitas Teknik Relaksasi Suara Alam untuk Mengurangi Stres Kerja. Penelitian dilakukan di PT. Toyota ASTRA (AUTO 2000) Malang, hasil dari penelitian tersebut adalah ada perbedaan yang sangat signifikan antara kelompok yang mengikuti teknik relaksasi suara alam dengan kelompok yang tidak mengikuti relaksasi suara alam, serta pemberian relaksasi suara alam efektif untuk mengurangi stres kerja pada karyawan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Plaut dan Friedman mengenai hubungan antara stres dengan kesehatan, mengungkapkan bahwa stres sangat berpotensi mempertinggi peluang seseorang untuk terinfeksi penyakit, terkena alergi serta menurunkan sistem autoimmune nya. Selain itu ditemukan bila bukti penurunan respon antibodi tubuh disaat mood seseorang sedang negatif dan akan meningkat naik pada saat mood seseorang sedang positif. Stres pada pekerjaan merupakan akibat dari karakteristik yang ada pada pekerjaan yang merupakan ancaman bagi diri seseorang. Ancaman ini berupa terjadinya peningkatan tuntutan pekerjaan ataupun kurangnya dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan karyawan. Pada waktu pekerjaan menuntut banyak sekali hal yang harus dikerjakan dan waktunya sangat sedikit, maka akan terjadi kelebihan muatan pada pekerjaan ( Job - Overload ). Penelitian di Dallas, Amerika Serikat, membuktikan bahwa penyakit stres yang membebani perusahaan sebesar kurang lebih $ 200 milyar setahun, dalam bentuk peningkatan absensi, keterlambatan dan tingginya turnover pada karyawan yang berbakat dan berprestasi. Antara 70 % sampai dengan 90 % dari kunjungan karyawan ke rumah sakit, berkaitan dengan stres dan tekanan pekerjaan secara langsung, berbanding lurus dengan berkurangnya produktivitas dan hilangnya
daya saing. Juli Hartini (2002) melakukan penelitian tentang Hubungan Tingkat Stres Kerja dengan Efektivitas Pengambilan Keputusan pada Manager , hasil penelitian ini menunjukan adanya korelasi negatif antara tingkat stres kerja dengan efektivitas pengambilan keputusan pada manager. Selain itu sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yun Iswanto (2003) tentang Analisis Hubungan antara Stres Kerja , Kepribadian, dan Kinerja Manager Bank , hasil penelitian menunjukan ada hubungan yang cukup kuat antara stres kerja dan kinerja, serta ada perbedaan yang signifikan antara stres kerja manager dengan kepribadian tipe A dan tipe B, yaitu tingkat stres kerja manajer dengan tipe kepribadian A lebih tinggi dibanding dengan tingkat stres kerja manajer dengan kepribadian tipe B. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana (2002) tentang Hubungan antara Locus of Control, Dukungan Sosial, dengan Stres Kerja pada guru SDN VI di Jakarta Barat. Hasil penelitan tersebut adalah tidak terdapat hubungan antara locus of control dengan stres kerja, dan tidak terdapat hubungan antara dukungan sosial dengan stres kerja. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Marialina.G (2002) tentang Hubungan antara Budaya Organisasi dengan Stres kerja pada karyawan di PT.X di Jakarta. Hasil penelitiannya tidak terdapat hubungan antara budaya organisasi dengan stres kerja pada karyawan. Salah satu hambatan lain yang berkaitan dengan produktivitas karyawan di suatu perusahaan atau organisasi adalah Kelelahan. Menurut Anastasi (1993.263) kebosanan merupakan salah satu bentuk dari kelelahan, sebagaimana halnya dengan rasa letih, kebosanan tetap merupakan pengalaman yang tidak mengenakan. Kelelahan menjadi masalah yang penting karena situasi tersebut dapat mempengaruhi kinerja dan produktivitas, sehingga perlu penanganan dalam upaya mencapai tujuan perusahaan. Abiry.A.(2002) melakukan penelitian tentang Hubungan antara Kelelahan mahasiswa praktikum dengan kemampuan mengontrol diri pada mahasiswa AKPER. Hasil penelitian tersebut ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kelelahan mahasiswa praktikum dengan kemampuan mengontrol diri (r=-0.482, p: 0,000) artinya semakin tinggi tingkat kelelahan mahasiswa praktikum maka semakin rendah kemampuan mengontrol diri mahasiswa. Ketika bekerja tidak jarang seseorang individu menemui tekanan, yang pada akhirnya membuat individu merasa lelah. Baik lelah fisik maupun psikis. Penelitian yang dilakukan oleh Rosiana dan Halim (2002), pada karyawan produksi yang bekerja di PT X, sentul- Bogor, peneliti berminat meneliti Hubungan antara Persepsi terhadap Karakteristik Pekerjaan Lingkungan Fisik Kerja dengan Kelelahan Kerja. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa persepsi terhadap karakteristik pekerjaan tidak berhubungan dengan kelelahan kerja (r = -0,126, P < 0,01), sedangkan persepsi terhadap lingkungan fisik kerja memiliki hubungan negatif signifikan dengan kelelahan kerja (r = -0,3362, P>0,01). Penelitian tentang Perbedaan antara Kelelahan kerja ditinjau dari Posisi Kerja karyawan, oleh Kurniawati S.A (2003) hasilnya ada perbedaan yang sangat signifikan antara Kelelahan kerja dengan posisi kerja. Dalam suatu perusahaan kelelahan merupakan suatu aspek yang dapat mempengaruhi kinierja dari karyawan, baik dalam hal kedisiplinan, kepuasan, ataupun produktivitas kerja. Hal tersebut dibuktikan oleh penelitian Susanti.W. (2002), melakukan penelitian tentang Hubungan antara Kelelahan kerja dengan Kepuasan kerja pada karyawan PT.PLN area Malang, hasil penelitian tersebut ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kelelahan kerja dengan kepuasan kerja pada karyawan PLN. Rasa lelah dalam diri manusia merupakan proses yang terakumulasi dari berbagai faktor penyebab dan dapat mendatangkan ketegangan (stress) yang dialami oleh tubuh manusia (Sritomo, 2003:284). Kondisi diatas ditambah dengan keadaan fisik perusahaan yang tidak sehat atau buruk, jam kerja yang sangat panjang, pekerjaan jasmaniah yang berat, waktu istirahat yang sangat kurang, dan tempo serta ritme kerja yang tidak sesuai dengan kondisi fisik karyawan. Semua faktor itu bisa membawa karyawan pada kondisi kelelahan jiwa yang parah . Apabila pekerjaan masih juga diteruskan, sedang konsentrasi dan kemauan maksimum sudah tidak mampu mengatasi kelelahan,produksi (output) yang dihasilkan sangat menurun. Mengacu pada fenomena diatas, bukanlah tidak mungkin beberapa perusahaan atau organisasi di Indonesia, akan mengalami hal yang sama jika permasalahan seperti kelelahan dan stres kerja pada karyawan tidak terlalu dipedulikan. Salah satunya seperti yang terjadi di CV. Kartika Sari Motor (Authorized Toyota Dealer) merupakan salah satu dari sekian banyak sub dealer Toyota yang ada di kota Malang. Dalam operasionalnya Kartika Sari Motor memiliki fasilitas show room dan layanan bengkel, selama 7 tahun berdiri Kartika Sari Motor mengalami peningkatan pesat indikatornya dilihat dari tiap bulannya mampu menjual 30 unit mobil merk Toyota ke konsumen dan setiap harinya ada 10 sampai 12 unit mobil yang harus diservice bagian bengkel. Dalam operasionalnya Kartika Sari Motor memiliki 4 Posisi kerja, yang pertama adalah Posisi Service Manager , Posisi ini disebut pula sebagai kepala bengkel, yang memimpin dan mengorganisasikan Kartika Sari Motor, Posisi Penjualan (Sales) bagian sales ini mempunyai wilayah kerja keluar kantor untuk melakukan promosi dan penjualan mobil produk Toyota, dari bagian ini mempunyai kontribusi yang besar bagi pemasukan perusahaan tiap bulannya para sales mampu menjual 30 unit mobil merk Toyota Khususnya Kijang Festa dan Avanza, serta Kijang Inova akan tetapi di sisi lain bagian ini mempunyai potensi yang besar untuk mengalami kelelahan dan stres kerja, hal itu diketahui berdasarkan informasi dari service manager dan salah satu dari sales bahwa mereka sering menglami stres kerja terutama ketika mempromosikan mobil ke konsumen sales menjanjikan waktu seminggu untuk produk dikirim ke konsumen tapi ternyata dari pusat bisa terlambat hingga 2 minggu, hal itu menyebabkan mereka tertekan, cemas terhadap protes dari pihak konsumen dan apabila hal itu terus berlanjut maka bonus dari pihak perusahaan akan berkurang bahkan tidak ada. Posisi kerja yang berikutnya adalah Administrasi, pada Posisi ini bertugas menyelesaikan admisitrasi pembayaran service mobil ataupun pembelian mobil. Bagian kerja yang ketiga adalah Services atau Mekanik, bagian ini terdiri dari Posisi Service Advisor (SA) bertugas melayani kebutuhan pelanggan yang datang dan keluar bengkel dengan mendengarkan, menganalisa dan menjelaskantentang kerusakan motor, Posisis Foreman (kepala regu) bertugas mengkordinir dan mengoptimalkan jalannya kerja mekanik menangani pekerjaan berdasarkan perintah kerja bengkel, Mekanik bertugas serivice kendaraan, perawatan, dan perbaikan sesuai perintah kerja bengkel (PKB) atau Work Order (WO). Pada bagian ini sering mengalami stres kerja, indikatornya terlihat dari lingkungan kerja para mekanik yang penuh kebisingan suara mobil, kebosanan yang muncul dari rutinitas yang tetap, hal itu di tambah lagi dengan tiap harinya mereka melayani 10 unit mobil yang apabila hanya ganti suku cadang dijadwalkan ke konsumen untuk selesai dalam waktu 2 jam tetapi sering terjadi keterlambatan, sehingga terkadang konsumen sering protes ke mekanik dan hal itu yang sering membuat para karyawan di bagian mekanik mengalami kelelahan, bosan, sehingga menyebabkan stres pada pekerjaannya. Kelelahan kerja dapat terjadi pada setiap individu ketika berada ditempat kerja, hal itu sesuai dengan pendapat Sritomo (2003:283) bahwa individu dapat mengalami lelah otot , mental, dan monotonis. Berdasarkan deskripsi diatas maka kelelahan kerja serta stres kerja dapat terjadi pada semua posisi kerja. Mengacu dari beberapa permasalahan diatas maka peneliti tertarik
untuk mengadakan penelitian mengenai “ Hubungan antara Kelelahan Kerja dengan Stres Kerja pada Karyawan Kartika Sari Motor Malang (Authorized Toyota Dealer).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah hubungan antara kelelahan kerja dengan stres kerja pada karyawan Kartika Sari Motor Malang (Authorized Toyota Dealer).
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelelahan kerja dengan stres kerja pada karyawan Kartika Sari Motor Malang (Authorized Toyota Dealer).

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Secara Teoritis Untuk mengembangkan atau menambah konsep-konsep atau teori-teori yang mendukung dalam perkembangan psikologi industri dan organisasi, khususnya tentang kelelahan kerja dengan stres kerja karyawan, selain itu dapat juga digunakan sebagai klarifikasi dari penelitian sebelumnya tentang kelelahan kerja dan stres kerja.
2. Secara Praktis Bagi perusahaan penelitian ini dilaksanakan dapat dijadikan sebagai masukan untuk pengelolaan sumber daya manusia, yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi karyawan terutama kelelahan kerja dan stres kerja, sehingga pihak manajemen dapat memberikan perhatian lebih bagi para karyawan berkaitan dengan faktor-faktor yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kondisi kerja karyawan. Selain itu penelitian ini juga bermanfaat sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Untuk stres kerja cara pengukuranya bagaimana??? dan apakah ada kategorial untuk stres kerja..

© 2009 - Skripsi Psikologi Indonesia | Design: PUNKER | Pagenav: Psycher89 Top